Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan Alwiati

SWARAREPUBLIKA.cim, Balikpapan - Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat komitmen dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan dasar.

Salah satu langkah strategis yang kini digencarkan adalah transformasi seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) menjadi fasilitas layanan yang benar-benar memenuhi standar “Puskesmas Sehat”.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, menjelaskan bahwa upaya ini tidak hanya berfokus pada pelayanan medis semata, tetapi juga mencakup peningkatan kualitas infrastruktur, kompetensi sumber daya manusia, serta pengelolaan lingkungan yang aman dan higienis.

Menurutnya, ketiga aspek tersebut harus berjalan seiring untuk menciptakan layanan kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa pengelolaan limbah medis menjadi perhatian utama.

Setiap puskesmas diwajibkan memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berfungsi mengolah limbah secara profesional agar tidak berdampak negatif terhadap lingkungan sekitar.

“Puskesmas harus sehat secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi tenaga medisnya, tetapi juga lingkungannya. Kami menerapkan kewaspadaan universal secara ketat, agar masyarakat tidak berisiko tertular penyakit saat berobat,” ujar Alwiati, Kamis (9/4/2026).

Untuk menjaga konsistensi standar layanan, Dinkes Balikpapan telah membentuk Tim Pembina Cluster Binaan (TPCB). Tim ini secara rutin melakukan pendampingan, evaluasi bulanan, serta monitoring melalui forum Mini Lokakarya yang digelar setiap tiga bulan.

Dalam forum tersebut, berbagai aspek dibahas secara mendalam, mulai dari kesiapan tenaga kesehatan, kelengkapan fasilitas, hingga kepatuhan terhadap prosedur operasional standar yang berlaku di masing-masing puskesmas. Di sisi lain, Dinkes juga responsif terhadap berbagai kendala di lapangan, termasuk keterbatasan fasilitas.

Salah satu contoh nyata adalah relokasi Puskesmas Margasari yang sebelumnya berada di atas perairan dan dinilai tidak lagi memenuhi standar akreditasi.

“Karena keterbatasan lahan, sementara ini kami menyewa lokasi yang lebih layak agar pelayanan tetap berjalan maksimal,” jelasnya.

Ke depan, pembangunan gedung permanen untuk puskesmas tersebut telah masuk dalam rencana strategis jangka panjang.

Selain itu, Alwiati juga menegaskan bahwa seluruh puskesmas tetap beroperasi penuh tanpa kebijakan work from home, demi memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap optimal setiap hari kerja.

(ADV/J/Diskominfo kota Balikpapan)

Dirut PTMB Balikpapan Yudhi Saharuddin 

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan - Ancaman fenomena El Nino 2026 mulai diantisipasi serius oleh Pemerintah Kota Balikpapan melalui Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB). Langkah ini dilakukan menyusul prediksi terjadinya penurunan ketersediaan air baku yang dapat berdampak langsung terhadap pelayanan air bersih kepada masyarakat. Direktur PTMB, Yudhi Saharuddin, menjelaskan bahwa berbagai persiapan telah dilakukan sejak jauh hari.

Upaya tersebut mencakup pembahasan internal hingga koordinasi lintas sektor, termasuk dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) sebagai pihak yang berperan dalam pengelolaan sumber daya air, Rabu (8/4/2026)

“Koordinasi lintas instansi sudah kami lakukan, termasuk dengan BWS. Dalam waktu dekat, kami juga akan rapat bersama Wali Kota dan seluruh OPD untuk memastikan kesiapan menghadapi El Nino,” ujar Yudhi.

Menurutnya, langkah kolaboratif tersebut penting agar seluruh pemangku kepentingan memiliki pemahaman dan kesiapan yang sama dalam menghadapi potensi krisis air. Prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa fenomena yang dijuluki “Godzilla El Nino” akan berlangsung pada April hingga Oktober 2026.

Untuk wilayah Balikpapan, dampak paling signifikan diperkirakan terjadi pada periode Juni sampai Oktober. Walaupun wilayah Kalimantan dikenal memiliki tingkat kelembapan yang relatif lebih tinggi dibanding daerah lain, risiko berkurangnya debit air tetap tidak bisa diabaikan.

Kondisi tersebut mendorong PTMB menyiapkan skenario pengendalian produksi air dari waduk, yang bisa mencapai pengurangan hingga 75 persen saat kondisi terparah.

“Pada periode puncak, produksi air kemungkinan akan kami batasi hingga 75 persen. Karena itu, kami sudah menyiapkan berbagai alternatif untuk menutup kekurangan pasokan,” jelasnya.

Sebagai langkah mitigasi, PTMB menyiapkan sejumlah alternatif sumber pasokan. Di antaranya dengan mengoptimalkan tiga bendali bantuan dari BWS, melakukan peningkatan kapasitas sumur air baku, serta menjajaki pemanfaatan Embung Wain yang saat ini masih dalam proses koordinasi dengan Kementerian Kehutanan.

Tidak hanya berfokus pada suplai, PTMB juga menyiapkan strategi distribusi darurat bagi pelanggan yang terdampak. Penyaluran air bersih melalui mobil tangki akan dimaksimalkan, dengan rencana pengoperasian hingga 30 unit armada untuk menjangkau wilayah yang mengalami gangguan layanan.

“Untuk kondisi darurat, kami menargetkan hingga 30 unit mobil tangki disiapkan agar distribusi air tetap berjalan bagi masyarakat yang terdampak,” tambah Yudhi.

Agar penyaluran berjalan efektif, PTMB akan berkoordinasi dengan pihak kecamatan setempat sehingga distribusi air dapat tepat sasaran dan merata. Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga mulai digencarkan. Warga diimbau untuk menggunakan air secara bijak sebagai bagian dari upaya bersama menghadapi potensi krisis air.

“Kami mengimbau masyarakat untuk mulai berhemat dalam penggunaan air. Kami juga menyalurkan tandon bagi warga terdampak agar bisa menampung air saat distribusi berlangsung,” tutupnya.

Dengan kesiapan yang terus dimatangkan serta dukungan lintas sektor, PTMB optimistis dampak El Nino terhadap layanan air bersih di Balikpapan dapat ditekan.

Pemerintah kota pun dijadwalkan akan menyampaikan kesiapan ini secara resmi dalam forum koordinasi bersama seluruh perangkat daerah dalam waktu dekat.

(ADV/J/Diskominfo kota Balikpapan)

Kepala Dinas Sosial kota Balikpapan Edy Gunawan

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan – Upaya memperluas perlindungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah terus digencarkan Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Sosial.

Pada tahun 2026, sebanyak 2.913 pekerja dari sektor informal diusulkan untuk memperoleh program jaminan sosial ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan terhadap risiko kerja.

Kepala Dinas Sosial Kota Balikpapan, Edy Gunawan, menjelaskan bahwa pengajuan tersebut tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan telah melalui proses administrasi serta koordinasi lintas instansi. Program ini menyasar kelompok pekerja yang selama ini menghadapi risiko tinggi dalam pekerjaan, namun belum memiliki jaminan sosial secara mandiri.

“Mayoritas dari mereka bekerja di sektor informal dengan tingkat risiko yang cukup tinggi, tetapi belum mendapatkan perlindungan yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah hadir untuk memberikan perlindungan dasar,” ungkapnya , Senin (6/4/2026).

Menurut Edy, langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat merasakan kehadiran negara, khususnya dalam hal perlindungan kerja. Ia menegaskan bahwa pekerja rentan perlu mendapatkan perhatian serius agar dapat menjalankan aktivitas dengan rasa aman.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa usulan tersebut telah diajukan secara resmi kepada Sekretaris Daerah sejak 10 Maret 2026. Saat ini, prosesnya tinggal menunggu penerbitan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Balikpapan sebagai dasar hukum pelaksanaan program.

“Secara administratif semua sudah kami lengkapi. Kami tinggal menunggu persetujuan melalui SK Wali Kota agar program ini bisa segera direalisasikan,” jelasnya.

Adapun ribuan calon penerima berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan, mulai dari pedagang kecil, buruh harian, hingga pekerja lepas yang selama ini belum tersentuh perlindungan ketenagakerjaan secara memadai. Edy menekankan bahwa program ini tidak bersifat sementara, melainkan dirancang sebagai perlindungan jangka panjang bagi para pekerja.

Dengan adanya jaminan sosial, mereka diharapkan tetap terlindungi ketika menghadapi risiko seperti kecelakaan kerja maupun kondisi darurat lainnya.

“Ini bukan sekadar bantuan sesaat, tetapi bentuk perlindungan berkelanjutan bagi pekerja dan keluarganya,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya perlindungan sosial bagi pekerja informal yang umumnya tidak memiliki kepastian penghasilan maupun jaminan dari pemberi kerja, berbeda dengan pekerja formal. Melalui program ini, diharapkan para pekerja dapat bekerja dengan lebih tenang dan produktif tanpa dihantui kekhawatiran terhadap risiko kerja.

Selain itu, program ini juga diyakini mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas. Saat ini, Dinas Sosial masih menunggu pengesahan SK Wali Kota. Setelah itu, tahapan lanjutan seperti verifikasi akhir data serta koordinasi teknis akan segera dilakukan.

“Kami sudah menyiapkan seluruh tahapan. Begitu SK diterbitkan, program ini langsung kami jalankan agar tepat sasaran,” tutup Edy.

(ADV/J/Diskominfo kota Balikpapan)

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Balikpapan Rita

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN - Pemerintah Kota Balikpapan terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas infrastruktur, khususnya pada ruas jalan yang memiliki peran vital bagi aktivitas masyarakat.

Salah satu yang kini menjadi fokus perhatian adalah Jalan AW Syahrani di Kelurahan Batu Ampar, yang dinilai membutuhkan penanganan lebih komprehensif agar tetap layak dilalui. Melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU), berbagai langkah awal telah dilakukan sebagai bentuk respons cepat terhadap kondisi jalan. Upaya tersebut difokuskan pada penanganan sementara guna menjaga keamanan dan kenyamanan pengguna jalan, sembari menyiapkan rencana perbaikan jangka panjang.

Kepala DPU Kota Balikpapan, Rita, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pembersihan saluran drainase serta perbaikan di sejumlah titik yang mengalami kerusakan. Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir dampak kerusakan yang lebih luas. “Penanganan sementara sudah kami lakukan melalui pembersihan saluran drainase dan perbaikan di beberapa titik jalan yang mengalami kerusakan,” ujar Rita usai menghadiri Rapat Paripurna di Hotel Grand Senyiur, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, kerusakan jalan di kawasan tersebut dipicu oleh tingginya intensitas kendaraan bertonase besar yang melintas setiap hari. Selain itu, kondisi drainase yang belum optimal juga menjadi faktor yang mempercepat kerusakan, terutama saat terjadi genangan air di badan jalan. “Arus kendaraan berat cukup tinggi di ruas ini. Di sisi lain, ada beberapa bagian drainase yang perlu dibenahi agar aliran air bisa berjalan optimal,” jelasnya.

Untuk memastikan penanganan dilakukan secara tepat dan terukur, DPU telah menurunkan tim teknis ke lapangan. Tim ini bertugas melakukan pengukuran serta mengidentifikasi kebutuhan teknis yang diperlukan sebagai dasar perencanaan perbaikan. “Kami sudah menurunkan tim untuk melakukan pengukuran dan identifikasi kebutuhan teknis. Ini penting agar perbaikan yang dilakukan bisa lebih efektif dan berkelanjutan,” katanya.

Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, DPU merencanakan perbaikan menyeluruh yang akan diusulkan dalam anggaran perubahan tahun berjalan. Fokus utama perbaikan diarahkan pada penguatan struktur jalan agar mampu menahan beban kendaraan berat, serta pembenahan sistem drainase guna mencegah kerusakan berulang. “Kami ingin penanganannya tidak hanya bersifat sementara, tetapi benar-benar menyelesaikan akar masalah,” tegas Rita.

Dengan langkah yang terencana dan berkelanjutan, Pemerintah Kota Balikpapan optimistis kondisi Jalan AW Syahrani akan semakin membaik. Upaya ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas infrastruktur, tetapi juga mendukung kelancaran mobilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut.

(ADV/J/Diskominfo kota Balikpapan)

Wakil walikota Balikpapan Bagus Susetyo

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan - Pemerintah Kota Balikpapan menegaskan kondisi keuangan daerah tetap berada dalam jalur yang aman dan terkendali sepanjang Tahun Anggaran 2025.

Hal tersebut terlihat dari laporan keuangan yang tidak menunjukkan adanya defisit, bahkan mencatatkan surplus sebagai indikator stabilitas fiskal yang terjaga dengan baik. Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, menyampaikan bahwa Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (Silpa) yang mencapai kisaran Rp400 miliar merupakan hal yang lazim dalam tata kelola keuangan daerah.

Ia menjelaskan bahwa angka tersebut tidak mencerminkan kegagalan penyerapan anggaran, melainkan bagian dari efisiensi yang terjadi dalam proses pelaksanaan program pemerintah.

“Silpa itu hal yang wajar. Sebagian besar berasal dari selisih hasil tender, terutama pada kegiatan fisik di berbagai OPD,” ujarnya, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, dalam proses pengadaan barang dan jasa, nilai kontrak yang dihasilkan melalui mekanisme lelang kerap lebih rendah dibandingkan pagu anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Selisih tersebut menjadi bukti adanya penghematan anggaran yang dilakukan secara sistematis.

Selain faktor efisiensi, terdapat pula sejumlah kegiatan yang sengaja tidak dilanjutkan menjelang akhir tahun anggaran. Kebijakan ini diambil untuk menghindari risiko pekerjaan yang tidak selesai tepat waktu, sehingga kualitas hasil pembangunan tetap terjaga.

“Daripada dipaksakan di akhir tahun dan berpotensi terlambat, lebih baik tidak dilanjutkan,” tegasnya.

Bagus juga memastikan bahwa besaran Silpa tidak berpengaruh terhadap alokasi dana dari pemerintah pusat. Justru, kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan daerah berjalan sehat dan stabil.

“Kondisi keuangan kita tetap sehat, tidak defisit, malah surplus,” katanya.

Ke depan, Pemkot Balikpapan berupaya menekan angka Silpa dengan mempercepat tahapan pengadaan barang dan jasa. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah memulai proses lelang lebih awal, bahkan sejak akhir tahun sebelumnya, selama dokumen perencanaan telah rampung.

“Kalau dokumen sudah siap sejak November, maka awal tahun proses lelang bisa langsung berjalan,” jelasnya.

Dengan percepatan tersebut, pemerintah berharap seluruh kegiatan pembangunan dapat diselesaikan dalam waktu 8 hingga 10 bulan, sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat secara optimal.

(ADV/J/Diskominfo kota Balikpapan)

 

 
Walikota Balikpapan H Rahmad Mas'ud

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan - Permasalahan banjir di Kota Balikpapan kembali menjadi sorotan serius Pemerintah Kota. Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, menegaskan bahwa kebutuhan anggaran untuk penanganan banjir masih sangat besar dan belum sebanding dengan alokasi yang tersedia saat ini.

Dalam keterangannya, Rahmad menyampaikan bahwa upaya pengendalian banjir tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan langkah komprehensif dan dukungan anggaran yang memadai agar persoalan yang kerap terjadi saat musim hujan tersebut dapat ditangani secara lebih efektif.

Ia mengaku mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang telah memasukkan program penyediaan air baku ke dalam rancangan awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

Namun demikian, menurutnya, perhatian terhadap program pengendalian banjir juga perlu diperkuat karena dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Program air baku tentu kami sambut baik, tetapi kami juga berharap pengendalian banjir di Balikpapan bisa mendapatkan porsi yang lebih besar. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga menyangkut aktivitas ekonomi dan kenyamanan warga,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan, kebutuhan anggaran untuk menangani banjir secara menyeluruh di Balikpapan diperkirakan mencapai lebih dari Rp2 triliun. Angka tersebut mencerminkan besarnya pekerjaan yang harus diselesaikan, mulai dari pembangunan infrastruktur drainase hingga normalisasi daerah aliran air.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa dana yang tersedia masih jauh dari cukup. Rahmad mengungkapkan, anggaran yang sudah dialokasikan baru berada di kisaran Rp130 miliar atau bahkan belum mencapai 10 persen dari total kebutuhan yang diperkirakan.

“Kondisi ini tentu menjadi tantangan besar bagi kami. Dengan keterbatasan anggaran, progres penanganan banjir tidak bisa berjalan maksimal seperti yang diharapkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Rahmad mengingatkan bahwa banjir merupakan fenomena alam yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Bahkan, negara maju sekalipun masih menghadapi persoalan serupa saat curah hujan tinggi. Oleh karena itu, fokus utama pemerintah adalah mengurangi dampak yang ditimbulkan agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat.

“Banjir itu tidak akan pernah benar-benar hilang. Negara seperti Jepang dan Amerika Serikat saja masih mengalaminya. Yang penting adalah bagaimana kita meminimalkan dampaknya sehingga kehidupan warga tetap berjalan normal,” katanya.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. Kolaborasi antara pemerintah kota, pemerintah provinsi, hingga DPRD, khususnya perwakilan daerah pemilihan Balikpapan, dinilai menjadi kunci dalam mempercepat realisasi program pengendalian banjir.

Rahmad berharap momentum perencanaan pembangunan saat ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong perbaikan infrastruktur dan sistem pengendalian banjir di Balikpapan. Menurutnya, dukungan dari berbagai pihak akan sangat menentukan keberhasilan upaya tersebut.

“Ini adalah kesempatan penting bagi Balikpapan untuk berbenah. Kami berharap seluruh pihak bisa bersama-sama mengawal program ini agar benar-benar terealisasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.

(ADV J/Diskominfo kota Balikpapan)

Walikota Balikpapan H Rahmad Mas'ud Berikan sambutan  Musrenbang penyusunan RKPD 2027

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan - Pemerintah Kota Balikpapan menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam rangka penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027 di Auditorium Balai Kota, Kamis (2/4/2026).

Forum ini menjadi langkah strategis dalam merumuskan arah pembangunan yang lebih terarah, terukur, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pejabat penting, di antaranya Wakil Gubernur Kalimantan Timur Seno Aji, perwakilan DPRD Provinsi Kaltim, unsur TNI dan Polri, serta jajaran Forkopimda dan organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemkot Balikpapan.

Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, yang membuka kegiatan itu menegaskan bahwa Musrenbang merupakan wadah penting untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mewujudkan pembangunan yang transparan dan partisipatif. “Musrenbang ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi menjadi ruang bersama untuk menyatukan visi dan memastikan setiap program yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, tahun 2027 menjadi fase krusial dalam pelaksanaan RPJMD 2025–2029. Setelah fokus pada penguatan fondasi di tahun 2026, kini Balikpapan diarahkan memasuki tahap percepatan pembangunan di berbagai sektor.

“Jika 2026 kita gunakan untuk memperkuat fondasi, maka 2027 adalah momentum akselerasi. Kita harus bergerak lebih cepat, lebih tepat, dan hasilnya harus benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Ia juga memaparkan tema pembangunan 2027 yang berfokus pada peningkatan kota yang nyaman untuk semua, dengan dukungan sumber daya manusia berkarakter, ekonomi bernilai tambah, infrastruktur tangguh, serta tata kelola pemerintahan yang inovatif.

Rahmad menekankan bahwa orientasi pembangunan ke depan tidak lagi berfokus pada banyaknya program, melainkan pada kualitas dan dampak nyata. “Kita tidak lagi bicara soal jumlah kegiatan, tetapi bagaimana program itu memberi manfaat langsung. Setiap rupiah anggaran harus menghasilkan dampak yang jelas bagi masyarakat,” katanya.

Sebagai wujud konkret, Pemkot Balikpapan menetapkan sembilan program prioritas pembangunan tahun 2027. Program tersebut meliputi transformasi birokrasi berbasis digital untuk meningkatkan pelayanan publik, peningkatan kualitas layanan kesehatan dan pendidikan, serta percepatan penanganan stunting.

Selain itu, pengendalian banjir secara terintegrasi dari hulu hingga hilir menjadi fokus utama, disertai upaya mewujudkan kedaulatan air bersih melalui revitalisasi jaringan pipa yang telah menua. Di sektor lingkungan dan sosial, pemerintah berkomitmen meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan. Pengembangan sektor pariwisata dan MICE juga terus didorong sebagai penggerak ekonomi daerah, sejalan dengan penguatan ekonomi kreatif dan inovasi. Tak kalah penting, pembangunan Kota Ramah Anak menjadi prioritas untuk memastikan perlindungan dan pemenuhan hak anak di Balikpapan.

“Seluruh program ini harus menjadi jawaban atas tantangan kota kita, apalagi di tengah keterbatasan anggaran. Karena itu, kita harus cermat, fokus, dan tepat sasaran dalam menentukan prioritas,” tambah Rahmad.

Melalui Musrenbang ini, Pemkot Balikpapan menargetkan lahirnya dokumen RKPD 2027 yang aspiratif, realistis, dan mampu memberikan dampak nyata, sekaligus memperkuat posisi Balikpapan sebagai mitra strategis Ibu Kota Nusantara, Pungkasnya.

(ADV/J/Diskominfo kota Balikpapan)

PLT kepala Dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dan keluarga berencana kita Balikpapan Nursyamsiarni 

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan - Langkah Pemerintah Kota Balikpapan dalam menghadirkan ruang publik yang aman dan berpihak pada anak kembali membuahkan hasil. Pada tahun 2026, dua taman kota resmi ditetapkan sebagai Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) berstandar nasional, mempertegas komitmen daerah dalam mendukung tumbuh kembang generasi muda.

Taman Tiga Generasi dan Taman Bekapai menjadi dua lokasi yang dinyatakan memenuhi kriteria oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Penetapan ini diumumkan pada 26 Maret 2026 setelah melalui serangkaian proses penilaian yang ketat dan menyeluruh.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Kota Balikpapan, Nursyamsiarni, menjelaskan bahwa tahapan penilaian dilakukan secara berlapis.

“Prosesnya diawali dengan evaluasi internal oleh pemerintah daerah, kemudian dilanjutkan dengan pendampingan teknis secara daring, hingga verifikasi lapangan oleh tim dari kementerian,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).

Ia menegaskan bahwa penilaian tidak hanya berfokus pada fasilitas bermain yang tersedia di dalam taman. “Seluruh aspek diperiksa secara detail, mulai dari keamanan lingkungan, kenyamanan, kemudahan akses, hingga nilai edukatif yang bisa diperoleh anak-anak,” katanya.

Menurutnya, keberadaan taman yang memenuhi standar RBRA memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.

“Taman bukan hanya tempat bermain, tetapi juga ruang interaksi sosial yang sehat bagi anak untuk belajar bersosialisasi dan berkembang,” tambahnya.

Secara nasional, hanya 18 lokasi yang berhasil lolos dalam penilaian RBRA tahun ini. Keberhasilan Balikpapan menghadirkan dua taman sekaligus dalam daftar tersebut menjadi capaian yang patut diapresiasi. Nursyamsiarni menyebut keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak.

“Ini tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah, pengelola fasilitas, serta masyarakat yang turut menjaga dan memanfaatkan taman secara positif,” ungkapnya.

Dengan bertambahnya dua taman berstandar nasional ini, Balikpapan semakin memperkuat langkahnya menuju kota layak anak. Pemerintah daerah pun berkomitmen untuk terus menghadirkan lebih banyak ruang publik yang aman, inklusif, dan mendukung masa depan anak-anak.

(ADV/J/Diskominfo kota Balikpapan)

Walikota Balikpapan H Rahmad Mas'ud

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan - Kondisi sejumlah ruas jalan di Kota Balikpapan kembali menjadi sorotan. Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas'ud, meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk tidak menutup mata terhadap kerusakan infrastruktur jalan yang dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pengguna, Kamis (2/4/2026)

Permintaan tersebut bukan tanpa alasan. Beberapa ruas jalan yang berada di bawah kewenangan provinsi disebut mengalami kerusakan cukup parah, mulai dari permukaan bergelombang hingga lubang yang mengancam pengendara.

Salah satu titik yang menjadi perhatian serius adalah Jalan Soekarno-Hatta, khususnya pada jalur Kilometer 0 hingga Simpang Batu Ampar. Rahmad menjelaskan, kondisi ini kerap menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Banyak warga mengira seluruh jalan di wilayah Balikpapan menjadi tanggung jawab pemerintah kota, sehingga setiap keluhan langsung diarahkan ke Pemkot.

Padahal, menurutnya, sebagian ruas jalan tersebut merupakan kewenangan pemerintah provinsi. Ia menegaskan bahwa persoalan ini berkaitan langsung dengan keselamatan publik. Oleh karena itu, ia meminta agar Pemerintah Provinsi Kaltim tidak hanya memasukkan perbaikan jalan dalam rencana program semata, tetapi juga memastikan adanya alokasi anggaran yang jelas sehingga perbaikan dapat segera direalisasikan.

“Persoalan ini menyangkut keselamatan masyarakat. Kami berharap tidak berhenti di tahap perencanaan saja, tetapi benar-benar diwujudkan melalui penganggaran dan pelaksanaan di lapangan,” ujarnya.

Selain Jalan Soekarno-Hatta, kerusakan juga ditemukan pada sejumlah ruas lain seperti Jalan Muara Rapak dan Jalan Mulawarman, terutama pada jalur dari Simpang Exit Tol hingga kawasan Teritip.

Rahmad kembali menekankan bahwa meskipun berada di dalam wilayah administratif Balikpapan, jalan-jalan tersebut tetap menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti dampak dari proyek pembangunan jaringan gas yang dinilai turut memperburuk kondisi jalan. Bekas pengerjaan proyek tersebut menyebabkan permukaan jalan tidak rata, bahkan berlubang di beberapa titik, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Menurutnya, kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.

Penanganan yang lambat hanya akan memperbesar potensi kecelakaan serta memperpanjang daftar keluhan masyarakat. Di akhir pernyataannya, Rahmad berharap adanya kejelasan langkah dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Ia ingin agar persoalan infrastruktur jalan ini segera ditangani secara serius, sehingga masyarakat tidak terus-menerus mengeluhkan kondisi yang sama.

“Harapannya ada tindakan nyata, agar masyarakat tidak terus mengeluh dan tidak selalu menyalahkan pemerintah kota,” tutupnya.

(ADV/J/Diskominfo kota Balikpapan)

Satpol PP mendata ke lima pekerja untuk diantar ke Dinsos Balikpapan untuk dilakukan penampungan sementara 

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN – Lima orang pekerja asal Malang sempat terlantar di Kota Balikpapan setelah mengalami penipuan terkait tiket kapal laut. Mereka akhirnya mendapat penanganan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kota Balikpapan sebelum dipulangkan ke daerah tujuan, (18/3/2026)

Kepala Dinas Sosial Kota Balikpapan, Edy Gunawan, menjelaskan bahwa kelima pekerja tersebut sebelumnya bekerja di proyek perumahan di wilayah Bengalon selama kurang lebih dua bulan. Namun, nasib mereka berubah setelah upah yang seharusnya diterima justru dibawa kabur oleh mandor proyek.

“Setelah kejadian itu, mereka memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Mereka sempat membeli tiket kapal laut secara online untuk keberangkatan pada 14 Maret,” ujar Edy.

Namun, saat tiba di Balikpapan dan hendak melakukan proses check-in, kelima pekerja tersebut justru mendapati bahwa tiket yang mereka beli tidak valid atau bodong. Kondisi ini membuat mereka kebingungan dan akhirnya melapor ke Polsek Kawasan Pelabuhan (KP3).

Dari laporan tersebut, petugas kepolisian kemudian mengarahkan mereka untuk mendatangi kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Selanjutnya, oleh petugas Satpol PP, mereka diantar ke tempat penampungan milik Dinas Sosial Kota Balikpapan untuk mendapatkan penanganan sementara.

Edy menjelaskan bahwa pihaknya memberikan bantuan penanganan awal, termasuk tempat tinggal sementara dan kebutuhan dasar. Namun, karena keterbatasan anggaran dan kemampuan, Dinsos tidak dapat sepenuhnya menanggung biaya pemulangan mereka.

“Untuk itu, kami menyarankan agar mereka menghubungi pihak keluarga guna membantu pembelian tiket pulang,” jelasnya.

Upaya tersebut membuahkan hasil setelah keluarga dari masing-masing pekerja bersedia membantu biaya perjalanan. Pada 17 Maret, kelima pekerja tersebut akhirnya diberangkatkan menuju Surabaya menggunakan kapal laut.

Dinsos Kota Balikpapan mengimbau masyarakat, khususnya para pekerja yang merantau, untuk lebih berhati-hati dalam membeli tiket perjalanan secara online serta memastikan keabsahan agen atau platform yang digunakan. Kejadian ini diharapkan menjadi pelajaran agar kasus serupa tidak kembali terjadi di kemudian hari.

(ADV/J/Diskominfo kota Balikpapan)

  1. Stok Bahan Pokok di Balikpapan Dipastikan Aman Selama Ramadan, Pemerintah Intensifkan Pengawasan
  2. Muhammad Anwar: Kenaikan Harga Pangan Masih Relatif terkendali
  3. Akhiri Safari Ramadan, Pemkot Balikpapan Ingatkan Warga Soal Sampah dan Belanja Bijak Jelang Lebaran
  4. Dinkes Balikpapan Pastikan Layanan Kesehatan Tetap Siaga Selama Libur Idulfitri
  5. DLH Balikpapan Ingatkan Warga Bijak Kelola Sampah Jelang Lebaran
  6. Disperkim Balikpapan Siap Ambil Alih PSU Perumahan Terlantar di 2026
  7. Waspada Campak Saat Mudik Lebaran, Dinkes Balikpapan Ingatkan Protokol Kesehatan
  8. Pemkot Balikpapan Siap Patuhi Edaran Mendagri soal Pembatasan Perjalanan Kepala Daerah Jelang Lebaran
  9. Sidak Parcel Lebaran, Pemkot Balikpapan Perketat Pengawasan
  10. Satpol PP Balikpapan Intensifkan Penertiban Pengemis dan Manusia Gerobak Selama Ramadan
  11. Ancaman DBD Saat Libur Lebaran, Dinkes Balikpapan Minta Warga Waspada dan Jaga Kebersihan
  12. Dishub Balikpapan Tertibkan Parkir Liar Selama Ramadan
  13. Disnaker Balikpapan Buka Posko Pengaduan THR
  14. Pemkot Balikpapan Tegaskan Kemudahan Investasi Tetap Harus Disertai Kepatuhan Perizinan
  15. Pemkot Balikpapan Tegaskan Aturan Jarak Minimarket Demi Lindungi Usaha Kecil
  16. Pemkot Balikpapan Gelar Peringatan Nuzulul Qur’an, Wali Kota Imbau Warga Tetap Tenang Selama Ramadan
  17. Disperkim Balikpapan Usulkan Pembentukan UPT Pemakaman untuk Perkuat Pengelolaan TPU
  18. Safari Ramadan di Balikpapan Barat, Pemkot Serahkan Bantuan untuk Masjid dan Pererat Silaturahmi
  19. Satpol PP Balikpapan Amankan 84 Botol Miras dan 30 Bola Biliar Saat Razia Ramadan
  20. Pengawasan Hiburan Malam Diperketat Selama Ramadan, Satpol PP Balikpapan Ingatkan Batas Jam Operasional