Fraksi PKS-PPP Soroti Ketimpangan Serapan Anggaran dan Tekankan Evaluasi Perencanaan Pemkot Balikpapan
SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN — Fraksi gabungan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memberikan respons kritis terhadap nota penjelasan Wali Kota Balikpapan mengenai Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2024.
Pandangan umum ini disampaikan oleh juru bicara fraksi, Japar Sidik, dalam Rapat Paripurna DPRD Balikpapan yang digelar di Gedung Parkir Klandasan, Senin (7/7/2025). Dalam pembukaan pandangannya, Fraksi PKS-PPP menyampaikan ucapan selamat Hari Bhayangkara ke-79 dan memberikan apresiasi atas tema “Polri untuk Masyarakat” yang dinilai selaras dengan semangat pelayanan serta transformasi institusi kepolisian.
Fraksi juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Balikpapan dalam memberikan subsidi uang pangkal dan SPP kepada 13 SMP swasta di kota ini. Menurut Japar, kebijakan ini mencerminkan komitmen serius Pemkot dalam menciptakan keadilan akses pendidikan. “Langkah ini bukan hanya meringankan beban masyarakat, tapi juga mendorong persaingan sehat antara sekolah negeri dan swasta,” ungkapnya.
Selain itu, Fraksi juga menyambut baik keberhasilan Pemkot memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI atas laporan keuangan 2024, yang merupakan kali ke-12 secara berturut-turut sejak 2013. Japar mengapresiasi kerja keras seluruh perangkat daerah dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas anggaran.
Namun demikian, Fraksi PKS-PPP turut menyoroti sejumlah persoalan yang perlu segera dibenahi, terutama yang tertuang dalam rekomendasi BPK. Di antaranya adalah pengelolaan aset tetap, kelebihan pembayaran kontrak, pelaksanaan Perpres 33 Tahun 2020, serta pertanggungjawaban belanja daerah. Lebih lanjut, fraksi mencatat rendahnya serapan anggaran di sektor-sektor vital. Realisasi belanja pendidikan hanya mencapai 87,2 persen, menyisakan Rp133 miliar.
Sementara sektor kesehatan lebih rendah lagi di angka 73,7 persen dengan sisa Rp181 miliar. “Dua sektor penting ini saja menyisakan anggaran hingga Rp314 miliar. Ini perlu dievaluasi karena menyangkut pelayanan dasar masyarakat,” tegas Japar. Rendahnya serapan bantuan sosial juga mendapat perhatian serius. Dari total anggaran Rp6,37 miliar, hanya Rp4,19 miliar atau 65,79 persen yang terealisasi.
Japar menilai sistem pengajuan melalui aplikasi SIPD perlu ditelaah ulang untuk mengetahui hambatan realisasi bansos. Tak hanya itu, belanja modal yang dianggarkan Rp1,65 triliun hanya terealisasi Rp1,44 triliun atau 87,43 persen.
Sisa anggaran sebesar Rp207 miliar disebut berkontribusi terhadap Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) 2024 yang mencapai Rp614,74 miliar. “Perencanaan proyek dan pemilihan rekanan harus diperbaiki agar tidak terjadi keterlambatan pembayaran seperti tahun ini,” ujarnya.
Fraksi PKS-PPP juga mencatat adanya proyek yang mengalami perpanjangan waktu pengerjaan, yang menyumbang Rp95,04 miliar terhadap SILPA, menandakan masih lemahnya pengawasan sejak tahap awal perencanaan.
Menutup pandangan umumnya, fraksi berharap agar Pemkot Balikpapan dapat meningkatkan ketepatan perencanaan anggaran dan memastikan seluruh program pembangunan benar-benar berjalan sesuai jadwal, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
(ADV/DPRD Balikpapan)
