PJ Program TB dan HIV Mas Ulun memberikan pesan untuk tidak enggan berobat difasilitas dekat rumah

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan — Sebuah fasilitas kesehatan tingkat pertama di wilayah Balikpapan mencatat adanya temuan kasus HIV baru dalam satu tahun terakhir. Meski jumlahnya tidak tinggi, temuan ini menjadi indikator bahwa penularan masih terjadi dan perlunya penguatan skrining serta deteksi dini.

Menurut penanggung jawab program HIV setempat, tantangan terbesar adalah masih adanya pasien yang enggan berobat di fasilitas kesehatan dekat rumah. Banyak pasien, baik yang baru terdiagnosis maupun yang sudah terdaftar, lebih memilih melakukan pengobatan di fasilitas rujukan tingkat lanjutan.

Namun, dengan adanya kebijakan biaya tertentu untuk pengambilan obat ARV di fasilitas rujukan, beberapa pasien kemudian diarahkan kembali ke layanan primer. “Sayangnya, ada yang justru berhenti minum obat karena merasa keberatan dengan biaya atau takut kembali ke fasilitas kesehatan dekat tempat tinggalnya,” jelas petugas program.

Sejumlah pasien mengaku khawatir identitas mereka diketahui oleh lingkungan sekitar. Mereka merasa lebih aman berobat jauh dari domisili meski sebenarnya layanan di tingkat pertama telah dirancang untuk menjaga kerahasiaan secara ketat. Padahal, keberlanjutan terapi ARV sangat penting untuk menekan jumlah virus dalam tubuh.

Ketika ARV diminum secara teratur, kondisi pasien dapat tetap stabil dan potensi penularan kepada orang lain dapat ditekan secara signifikan. Data tahun 2025 juga menunjukkan adanya pasien yang harus menjalani terapi HIV bersamaan dengan pengobatan TBC. Kondisi komorbid tersebut menjadi penguat bahwa pasien membutuhkan pendampingan dan pengobatan yang konsisten. “Kami ingin memastikan setiap pasien merasa aman dan tidak sendirian dalam menjalani pengobatan. Pendampingan selalu tersedia,” tambah petugas.

Untuk mencegah terjadinya putus obat, fasilitas kesehatan tersebut meningkatkan kualitas layanan konseling, komunikasi, dan pendekatan personal kepada setiap pasien. Edukasi diberikan secara menyeluruh, mulai dari manfaat terapi jangka panjang, cara menjaga kesehatan, hingga pentingnya keteraturan minum obat.

Petugas program menegaskan bahwa keamanan, rasa nyaman, dan privasi pasien menjadi prioritas utama. Fasilitas kesehatan terus berupaya menciptakan lingkungan yang ramah dan bebas stigma agar pasien dapat menjalani terapi tanpa rasa takut. Harapannya, semakin banyak warga yang bersedia berobat di wilayahnya sendiri sehingga proses pemantauan, pendampingan, dan keberlanjutan terapi dapat berjalan lebih optimal.

(ADV/Puskesmas)

Dr Wiwik Mulyana Penanggung jawab Klaster 2 KIA Manggar Baru 

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan — Puskesmas Manggar Baru menaruh perhatian besar terhadap dua kondisi medis yang paling sering ditemukan pada ibu hamil, yakni anemia dan hipertensi dalam kehamilan. Dua kondisi ini dinilai menjadi faktor risiko terbesar komplikasi persalinan sehingga memerlukan penanganan sejak dini.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh Dr. Wiwik Mulyana, Penanggung Jawab Klaster 2 KIA, pada kegiatan pelayanan KIA di Puskesmas Manggar Baru pada Senin (1/12/2025).

Dr. Wiwik mengatakan bahwa meskipun puskesmas tidak memiliki program inovasi khusus, seluruh tenaga kesehatan secara konsisten menjalankan program nasional yang fokus pada mencegah risiko kehamilan. “Sejak pertama kali datang, ibu hamil akan kami lakukan pemeriksaan kadar Hb. Bila ditemukan anemia, kami langsung berikan tablet tambah darah dengan dosis penyesuaian sesuai tingkat keparahannya,” terangnya.

Selain anemia, hipertensi dalam kehamilan juga menjadi temuan yang cukup sering ditemukan dalam pemeriksaan rutin. Ibu hamil yang memiliki faktor risiko akan diberikan terapi pencegahan sejak dini, bahkan sebelum gejala muncul lebih lanjut. “Penanganan dini ini penting agar ibu tidak jatuh ke kondisi hipertensi pada kehamilan (Preeklamsi). Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang mencegah komplikasi,” jelas Dr. Wiwik.

Ia menambahkan bahwa efektivitas program deteksi dini sangat bergantung pada kedisiplinan ibu hamil untuk memeriksakan kandungannya sejak trimester pertama. Namun masih banyak ibu yang baru datang di usia kehamilan lanjut. “Idealnya pemeriksaan dilakukan sejak awal kehamilan. Banyak ibu hamil baru datang pada trimester kedua dan ketiga. Padahal risiko bisa dicegah kalau kami tahu dari awal,” katanya.

Upaya pencegahan tersebut diharapkan dapat menekan angka komplikasi dan memastikan ibu melahirkan dengan kondisi yang sehat. Dr. Wiwik menegaskan bahwa anemia dan hipertensi dapat dicegah apabila ibu rutin diperiksa dan mengikuti seluruh anjuran tenaga kesehatan. “Yang kami dorong adalah kesadaran ibu untuk tidak menunda pemeriksaan. Dari situlah keselamatan ibu dan bayi bisa lebih terjamin,” tutupnya.

(ADV/Puskesmas)

Mas Ulun PJ Program TB dan HIV Manggar Baru 

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan — Menyikapi meningkatnya kasus HIV sepanjang 2025 serta rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini, Puskesmas Manggar Baru berencana memperluas edukasi HIV secara masif mulai tahun 2026.

Menurut Mas Ulun, PJ Program TB dan HIV, edukasi selama ini lebih banyak diarahkan kepada pasangan odhiv dan kelompok berisiko tinggi yang mengikuti layanan PrEP. Namun melihat tren terbaru, perluasan sasaran menjadi hal yang sangat penting.

“Selama beberapa tahun, edukasi masih terfokus pada kelompok tertentu.Mulai 2026 kami perlu menjangkau masyarakat umum, termasuk remaja dan kelompok usia produktif,” jelas Mas Ulun. Ia menyebut kelompok muda menjadi prioritas karena rentan mengakses informasi keliru dan terpapar perilaku berisiko. Langkah awal perluasan edukasi ini sebenarnya telah dimulai pada peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2025.

Puskesmas menggelar layanan skrining HIV di area publik dekat Lapangan Merdeka, tepatnya di kawasan parkir sekolah. Kegiatan itu mendapat respons positif dari masyarakat yang ingin memeriksa status kesehatan tanpa harus datang langsung ke puskesmas. Seringkali pasien datang dengan IMS kita selalu edukasi untuk tidak lagi jajan di luar dan jika sdh berpasangan setia pada pasangan karena dikhawatirkan bisa saja tertular HIV jika semakin intensnya melakukan Seks bebas dan seks menyimpang Selain itu, kampanye moral mengenai pola perilaku seksual sehat juga akan diperkuat, khususnya untuk remaja.

Ia mengingatkan pentingnya hubungan yang bertanggung jawab dan setia pada pasangan bagi mereka yang sudah menikah. Edukasi ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi menyangkut keselamatan masa depan generasi muda. Puskesmas juga menjadikan penghapusan stigma terhadap odhiv sebagai salah satu fokus utama tahun 2026. “Tidak boleh ada celah untuk diskriminasi. Odhiv harus dihargai dan dilindungi,” tegas Mas Ulun.

Dengan pendekatan edukatif yang lebih luas, konsisten, dan menyasar seluruh lapisan masyarakat, Puskesmas Manggar Baru berharap prevalensi HIV dapat ditekan dan masyarakat lebih berani melakukan pemeriksaan dini.

(ADV/Puskesmas)

Dr Wiwik Mulyana Penanggung jawab Klaster 2 KIA

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan — Dalam upaya menekan risiko kehamilan dan mendorong masyarakat agar lebih sadar merencanakan kehamilan, Puskesmas Manggar Baru mengoptimalkan peran TPK (Tenaga Pendamping Keluarga) dan kader kesehatan di lapangan.

Mekanisme pemantauan aktif ini menjadi salah satu strategi penting yang dijalankan Puskesmas Manggar Baru pada Senin (1/12/2025), sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Wiwik Mulyana, Penanggung Jawab Klaster 2 KIA.

Menurut Dr. Wiwik, permasalahan kehamilan di wilayah Balikpapan Timur cukup kompleks. Banyak ibu hamil yang jarak kehamilannya terlalu dekat, terlalu banyak anak, usia kehamilannya terlalu muda, hingga kehamilan di usia risiko di atas 35 tahun. “Ada ibu yang anaknya baru delapan bulan tapi sudah hamil lagi. Bahkan ada remaja usia sekolah yang sudah hamil. Ini sangat berisiko bagi kesehatan ibu maupun bayinya,” jelasnya.

Karena itu, Puskesmas Manggar Baru mengaktifkan sistem pemantauan berlapis melalui kader dan TPK. Setiap kader memantau kondisi ibu hamil yang ada di wilayah RT masing-masing. Jika ditemukan ibu hamil yang belum pernah memeriksakan kandungannya, kader akan segera melaporkan kepada bidan dan TPK untuk dilakukan kunjungan rumah.

“Mereka bergerak langsung. TPK dan kader akan datang untuk memastikan ibu hamil mendapatkan pemeriksaan pertama secepat mungkin,” paparnya.

Fungsi TPK tidak hanya memantau, tetapi juga memberikan edukasi tentang pentingnya jarak kehamilan yang ideal, risiko kehamilan usia terlalu muda, hingga pentingnya pemeriksaan kehamilan sejak trimester pertama. Edukasi ini dianggap penting karena masih banyak masyarakat yang memandang pemeriksaan kehamilan hanya diperlukan menjelang persalinan.

Dr. Wiwik berharap edukasi yang dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah dapat mengubah pola pikir masyarakat, terutama yang memiliki risiko terkait usia ataupun jarak kehamilan. “Kami ingin masyarakat benar-benar memahami bahwa kehamilan harus direncanakan. Tidak boleh terlalu muda, tidak boleh terlalu dekat, tidak boleh terlalu banyak, dan tidak boleh terlalu tua,” tegasnya.

Dengan pendekatan pemantauan aktif ini, Puskesmas Manggar Baru menargetkan seluruh ibu hamil di wilayah kerjanya dapat terpantau sejak awal sehingga risiko kesehatan ibu dan anak bisa diminimalkan secara signifikan.

(ADV/DPRD Balikpapan)

Mas Ulun Penanggung jawab program TB dan HIV Puskesmas Manggar Baru 

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan — Menyambut Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2025, Puskesmas Manggar Baru meningkatkan fokus pada upaya deteksi dini dan pencegahan penularan HIV melalui layanan skrining serta pemanfaatan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis).

Meski wilayah Manggar Baru tidak memiliki titik lokasi atau hotspot yang biasanya menjadi lokasi populasi kunci, puskesmas tetap melakukan penjangkauan secara intensif agar layanan pencegahan dapat menjangkau kelompok berisiko.

Mas Ulun, penanggung jawab program TB dan HIV, mengatakan bahwa strategi penjangkauan dilakukan dengan menggandeng para petugas lapangan dari PPTI dan PKBI Balikpapan. Melalui kerja sama tersebut, penjangkauan diarahkan ke sejumlah hotspot atau titik pertemuan populasi kunci yang diidentifikasi melalui jejaring lapangan, tanpa menyebutkan lokasi secara spesifik. “Kami bergerak berbasis jejaring lapangan untuk memastikan skrining tepat sasaran meski wilayah kami tidak memiliki hotspot tetap,” jelasnya.

Selain memperluas skrining, puskesmas juga mengoptimalkan layanan Perawatan Dukungan Pengobatan (PDP) serta akses PrEP bagi masyarakat. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah masyarakat yang datang secara sukarela untuk berkonsultasi mengenai PrEP meningkat cukup signifikan. Sebagian besar merupakan pasangan yang memiliki risiko paparan virus melalui pasangannya ataupun individu yang ingin memastikan perlindungan maksimal.

Mas Ulun menyebutkan bahwa meningkatnya minat terhadap PrEP merupakan indikasi positif bahwa masyarakat mulai memahami pentingnya pencegahan. “Kesadaran untuk mencegah kini jauh lebih kuat. Banyak yang datang bukan karena merasa sakit, tetapi karena ingin menjaga kesehatan sejak dini,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan skrining tidak hanya bergantung pada ketersediaan alat dan tenaga kesehatan, tetapi juga pada lingkungan layanan yang ramah, aman, serta menjaga kerahasiaan. Karena itu, Puskesmas Manggar Baru terus memperbaiki sistem pelayanan agar masyarakat merasa nyaman saat memeriksakan diri. Pada momentum Hari AIDS Sedunia 2025, puskesmas menegaskan komitmennya untuk menekan angka penularan HIV di Balikpapan Timur melalui edukasi, peningkatan layanan, serta penguatan langkah pencegahan.

Upaya ini selaras dengan tema global “Let Communities Lead”, yang menekankan bahwa komunitas memiliki peran besar dalam mengendalikan epidemi HIV.

(ADV/Puskesmas)

PJ Program TB dan HIV Mas Ulun puskesmas Manggar Baru Balikpapan timur 

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan — Stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) masih menjadi salah satu hambatan terbesar dalam pengendalian kasus HIV. Menurut Mas Ulun, PJ Program TB dan HIV Puskesmas Manggar Baru, tantangan yang dihadapi saat ini bukan hanya terkait penanganan kesehatan, tetapi juga bagaimana mengubah persepsi keliru yang masih melekat di masyarakat maupun di lingkungan pelayanan kesehatan.

Banyak warga masih menganggap bahwa ODHIV adalah individu dengan kondisi yang lemah atau tidak mampu menjalani aktivitas seperti biasanya. Padahal, kenyataannya banyak ODHIV dapat bekerja secara profesional di berbagai sektor tanpa hambatan berarti. “Banyak ODHIV yang sehat, bekerja normal, dan menjalani hidup seperti warga lainnya. Mereka tidak dapat dibedakan dari masyarakat umum,” jelas Mas Ulun.

Ia menyampaikan bahwa perubahan cara pandang masyarakat Manggar Baru sebenarnya mulai terlihat. Kunjungan rutin pasien HIV yang memeriksakan diri ke puskesmas membuat warga sekitar semakin memahami bahwa HIV tidak menular melalui aktivitas sosial sehari-hari. “Dulu ada rasa takut. Sekarang semakin banyak yang peduli dan memahami bahwa HIV bisa dikendalikan dengan terapi,” ujarnya.

Meski demikian, stigma yang muncul di lingkungan keluarga, sosial, hingga tenaga kesehatan masih menjadi tantangan serius. Beberapa pasien bahkan memilih berobat ke fasilitas kesehatan di luar wilayah tempat tinggalnya karena khawatir identitas mereka diketahui atau takut diperlakukan berbeda.

Kondisi ini dapat mengganggu keberlanjutan pengobatan, sementara terapi HIV hanya efektif jika dijalani secara teratur dan berkesinambungan.

Mas Ulun menegaskan bahwa Puskesmas Manggar Baru berkomitmen menciptakan layanan yang aman, ramah, dan bebas diskriminasi. Seluruh petugas diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kerahasiaan data pasien serta memastikan setiap ODHIV mendapatkan pelayanan yang profesional dan manusiawi. “Jika stigma hilang, orang akan berani tes dan berobat. Ini sangat penting dalam menghentikan penularan,” tegasnya.

Ke depan, puskesmas akan memperkuat edukasi publik agar masyarakat semakin memahami bahwa HIV adalah kondisi yang dapat dikendalikan dengan terapi berkelanjutan. Dukungan, penerimaan, dan lingkungan yang inklusif menjadi elemen penting agar ODHIV dapat tetap sehat dan terlibat aktif dalam kehidupan sosial tanpa rasa takut maupun diskriminasi.

(ADV/Puskesmas)

Dr Wiwik Mulyana Penanggung jawab Klaster 2 KIA Puskesmas Manggar Baru 

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan — Puskesmas Manggar Baru terus memperkuat komitmennya dalam memberikan pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) secara menyeluruh, terutama melalui pemeriksaan kehamilan yang terstruktur dan lengkap pada setiap trimester.

Dalam kegiatan pelayanan yang berlangsung pada Senin (1/12/2025), Penanggung Jawab Klaster 2 KIA, Dr. Wiwik Mulyana, menjelaskan bahwa layanan yang diberikan tidak hanya mencakup pemeriksaan dasar, tetapi juga pemeriksaan penunjang yang sangat dibutuhkan untuk memastikan kondisi ibu dan janin tetap optimal.

Menurut Dr. Wiwik, alur pemeriksaan di Poli KIA sudah tersusun sesuai standar nasional. Pemeriksaan USG dilakukan pada trimester pertama dan trimester ketiga, sementara pemeriksaan laboratorium diberikan pada setiap trimester untuk melihat perkembangan kesehatan ibu secara menyeluruh. “Layanan pemeriksaan laboratorium untuk ibu hamil gratis. Namun untuk pemeriksaan USG gratis sesuai faskes masing-masing,” jelasnya.

Kunjungan ibu hamil ke Puskesmas Manggar Baru saat ini terbilang sangat tinggi. Dalam satu hari, tenaga kesehatan hanya mampu melayani maksimal 20 pasien, karena pemeriksaan harus tetap detail dan tidak terburu-buru. “Antusias masyarakat sangat besar. Banyak juga ibu hamil dari luar fasilitas kesehatan kami yang memilih datang ke sini karena layanan yang dianggap lebih lengkap,” ujarnya.

Pihak puskesmas juga berupaya membantu ibu hamil yang kepesertaan BPJS-nya bukan di Puskesmas Manggar Baru agar bisa mendapatkan akses layanan secara optimal. Salah satu caranya adalah mengarahkan ibu untuk memindahkan kepesertaan BPJS ke Manggar Baru sehingga seluruh pemeriksaan dapat ditanggung tanpa biaya tambahan. “Kami ingin memastikan semua ibu hamil mendapatkan hak pelayanan yang sama,” tambahnya.

Dengan jumlah kunjungan yang terus meningkat serta pelayanan yang semakin terstruktur, Dr. Wiwik berharap Puskesmas Manggar Baru bisa terus menjadi rujukan masyarakat untuk pemeriksaan kehamilan yang aman, nyaman, dan berkualitas hingga menjelang persalinan.

(ADV/Puskesmas)

SWARAREPUBLIKA.com, Nusa Dua, 30 November 2025 — SKK Migas kembali mencatatkan prestasi membanggakan setelah Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) lembaga tersebut meraih Gold Rank pada ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025.

Penghargaan ini menjadi bukti konsistensi SKK Migas dan industri hulu migas dalam menjaga komitmen terhadap isu keberlanjutan di tengah upaya peningkatan produksi dan lifting minyak dan gas nasional. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyampaikan bahwa keberlanjutan tetap menjadi pijakan strategis meskipun sektor hulu migas tengah berlari mengejar target peningkatan produksi.

“SKK Migas dan Kontraktor KKS terus bekerja keras untuk meningkatkan produksi migas nasional. Namun agenda keberlanjutan tetap menjadi prioritas karena strategi kami bukan hanya soal produksi, tetapi juga mendukung komitmen Indonesia mencapai target net zero emission,” ujarnya usai menerima penghargaan ASRRAT 2025 pada Jumat (28/11).

Ia menambahkan bahwa pencapaian ini diharapkan mendorong semangat untuk menghadirkan terobosan baru dalam penerapan prinsip keberlanjutan di industri hulu migas. ASRRAT merupakan ajang penilaian tahunan terhadap laporan keberlanjutan yang disusun berbagai lembaga dan perusahaan.

Penilaian dilakukan oleh National Center for Corporate Reporting (NCCR), lembaga independen yang mendorong percepatan penerapan pelaporan keberlanjutan berbasis standar Global Reporting Initiative (GRI). Tahun ini, ajang tersebut diikuti 82 peserta dari Indonesia, Bangladesh, dan Filipina. SKK Migas sendiri konsisten mengikuti ASRRAT dan telah meraih Gold Rank sebanyak tujuh kali.

Djoko menjelaskan bahwa isu-isu keberlanjutan, termasuk upaya pengurangan emisi, merupakan pekerjaan jangka panjang yang harus dimulai dengan langkah nyata. Industri hulu migas telah menjalankan berbagai inisiatif, mulai dari peningkatan efisiensi energi, pengurangan emisi metana, hingga program zero flaring. Selain itu, sejumlah proyek carbon capture, utilization and storage (CCUS) juga menunjukkan perkembangan signifikan, seperti di Ubadari Tangguh serta proyek Abadi Masela.

Praktik CCUS sebenarnya bukan hal baru di industri migas Indonesia, yang sebelumnya digunakan dalam Enhanced Oil Recovery (EOR) dan pressure maintenance di lapangan Sukowati dan Banyu Urip. Menurut Djoko, Indonesia memiliki potensi penyimpanan karbon yang sangat besar dan didukung regulasi yang semakin matang. SKK Migas juga telah menerbitkan Pedoman Tata Kerja (PTK) CCS/CCUS yang memberikan panduan lengkap bagi Kontraktor KKS dalam merencanakan dan melaksanakan proyek-proyek tersebut. “Dokumen ini memastikan setiap proyek berjalan efisien, aman, dan akuntabel,” tegasnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan implementasi CCS dan CCUS membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. “Industri hulu migas tidak dapat bergerak sendiri. Kolaborasi menjadi kunci untuk mewujudkan proyek CCS/CCUS yang nyata,” pungkasnya.

(*)