Lonjakan Anak Jalanan dan Pengemis di Balikpapan Saat Ramadan Jadi Sorotan
SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan - Setiap menjelang dan selama bulan Ramadan, jumlah anak jalanan (anjal), gelandangan, dan pengemis (gepeng) di Kota Balikpapan mengalami peningkatan signifikan. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait ketertiban umum dan kenyamanan masyarakat dalam menjalankan ibadah.
Anggota Komisi IV DPRD Balikpapan, Sofyan Jufri, menilai kondisi ini perlu segera ditangani dengan kebijakan yang lebih tegas. Menurutnya, banyak dari mereka datang dari luar daerah untuk mengemis di Balikpapan. "Balikpapan selalu menjadi tujuan mereka.
Jika dibiarkan, jumlahnya akan semakin meningkat," ujarnya. Ia menekankan pentingnya penegakan Peraturan Daerah (Perda) tentang Ketertiban Umum guna mengatasi lonjakan ini. Salah satu langkah yang harus dilakukan adalah meningkatkan patroli dan razia oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) agar kehadiran anjal dan gepeng tidak semakin meluas.
Selain tindakan penertiban, Sofyan juga menyoroti perlunya edukasi kepada masyarakat agar tidak memberikan uang langsung kepada pengemis di jalan. Ia menilai, kebiasaan ini justru memperpanjang masalah. "Kalau ingin membantu, lebih baik melalui lembaga sosial atau panti yang benar-benar menyalurkan bantuan dengan tepat," tambahnya.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa tidak semua anjal dan gepeng sekadar mencari keuntungan dari belas kasihan warga. Sebagian dari mereka memang berada dalam kondisi sulit dan membutuhkan bantuan.
Oleh karena itu, pemerintah perlu bekerja sama dengan dinas sosial untuk memberikan pembinaan dan menampung mereka yang benar-benar membutuhkan. Hingga saat ini, pemerintah kota belum mengeluarkan kebijakan khusus terkait lonjakan anjal dan gepeng selama Ramadan.
Namun, masyarakat berharap ada langkah konkret untuk menjaga ketertiban tanpa mengabaikan sisi kemanusiaan.
(ADV/J)