Geodesi Jadi Ikon IKN Di Kaltim
BALIKPAPAN, SWARAREPUBLIKA.com - Geodesi atau titik kontrol, orang terbiasa menyebutnya Titik Nol. Salah satunya berada di kawasan pembangunan IKN (Ibu Kota Negara) Nusantara, di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur (Kaltim).
Melalui UU IKN telah disahkan pemerintah, dari sinilah kawasan atau wilayah IKN ramai dibicarakan, baik masyarakat elite maupun masyarakat awam. Bahkan, pada saat Presiden RI Joko Widodo berkemah pada, Senin hingga Selasa (14-15/3/2022) lalu, dapat menghipnotis jutaan rakyat, memastikan keseriusan pemerintah membangun IKN di Sepaku, PPU ini.
Meski sebelumnya berbagai wacana dan polemik yang timbul di kalangan para elite politik, mengenai pandangan mereka terkait pemindahan Ibu Kota Negara (IKN). Biasa, ada riak-riak kecil, perdebatan di masyarakat, perlu atau tidak IKN saat ini.
Namun, satu hal menjadi catatan kita, Kalimantan dan Kaltim khususnya, mudah diingat bagi orang karena IKN. Nah, saat ini banyak orang yang penasaran dengan IKN.
Padahal, saat Anda berkunjung ke IKN, Anda hanya akan melihat hamparan hijau tanaman kayu atau pohon eucalyptus ditanam untuk dijadikan bahan baku kertas. Pastinya, tujuan utama Anda di "geodesi," titik kontrol atau Titik Nol untuk berswafoto, bersama keluarga dan sahabat.
Walaupun, sebenarnya terdapat tiga titik menjadi tujuan saat berkunjung ke kawasan IKN, yakni batu "geodesi," areal pembangunan perkantoran, berada di puncak, dan selanjutnya menara. Menara ini, bagi PT. ITCI sebagai kuasa hutan tanaman industri (HTI), menyebutnya menara api, tempat memantau sekiranya ada kebakaran hutan di lahan perusahaan.
Presiden Joko Widodo juga telah meyakinkan para gubernur dari 34 provinsi di Indonesia, serius membangun IKN Nusantara ini, bahkan ditandai dengan penanaman 34 jenis pohon, tanah dan air dari 34 provinsi.
Masyarakat sekitar pun, mulai merasakan dampak dari pembangunan IKN, setiap hari, lalu lintas wilayah Semoi, Sepaku, mulai ramai, bahkan ada saja pelintas dari luar kota atau Kaltim.
Termasuk jalan tol sebelumnya sepi dari kendaraan roda empat, kini mulai ramai dilalui.Tentu tak ada salahnya bila kita mengapresiasi perjuangan Dr Awang Faroek Ishak, kala menjabat gubernur Kaltim dengan membangun jalan tol sebagai jalur alternatif yang bebas dari kemacetan.
Kini, terasa pengunjung IKN pada akhir pekan mencapai seribu orang, sekira 20 persen dari luar Kaltim, hanya melihat geodesi dan berswafoto. Banyak cerita di sini, geodesi menjadi salah satu ikon baru di Kalimantan dan Kaltim secara khusus.
Tanpa mengabaikan pesan Wakil Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Timur Firminus Kunum, untuk tetap menjaga kearifan lokal, adat istiadat masyarakat setempat. Pihaknya, siap terlibat dalam pembangunan IKN ke depan, khususnya dari aspek sosial kemasyarakatan.
Kota Balikpapan juga niscaya terdampak pembangunan IKN, sebagai salah satu kota penyangga, pelan-pelan kemacetan juga dirasakan warga Balikpapan. Melihat catatan penerbangan Balikpapan, Bandara Udara SAMS Sepinggan Balikpapan, mencapai 12 hingga 13 ribu, pengguna jasa penerbangan melalui Bandara Sepinggan Balikpapan.
Semoga saja, geodesi menjadi ikonis baru bagi rakyat indonesia, dan menjadi destinasi baru bagi kita semua, dapat menggerakkan ekonomi Kaltim, kian hari makin dikenal.
Sebenarnya, ini rambu bagi pemerintah setempat untuk berbenah pada segala aspek, baik sumber daya manusia (SDM) sampai dengan infrastruktur kota, perlu ditingkatkan. Sebab infrastruktur jalan menjadi salah satu kenyamanan bagi penghuni kota.
Lepas dari kemacetan, minim kecelakaan lalu lintas, satu hal perlu kita ingat dan tanamkan, jaga kondusivitas kota yang nyaman huni.
Sumber : A.Y ( Sekjen AMSI )
