SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN – Di balik hijaunya perbukitan Jalan Soekarno-Hatta KM 8, Kelurahan Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur, berdiri sebuah destinasi wisata yang kini semakin dikenal masyarakat: Bukit Kebo.
Kawasan ini menjadi contoh nyata bagaimana keindahan alam, kreativitas warga, dan semangat pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan membentuk daya tarik wisata baru di Kota Minyak, Jumat (17/10/2025)
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan, Ratih Kusuma, mengapresiasi geliat positif yang terjadi di Bukit Kebo. Menurutnya, destinasi ini menunjukkan bahwa potensi wisata dapat tumbuh dari inisiatif lokal tanpa harus mengorbankan keaslian alam.
“Dulu Bukit Kebo itu sangat sederhana. Sekarang sudah ada gazebo, area glamping, bahkan villa untuk menginap. Mereka juga tengah merencanakan pembangunan skybridge agar akses ke puncak lebih mudah,” jelas Ratih.
Perkembangan tersebut tidak hanya mempercantik kawasan, tetapi juga memperluas daya tarik wisata alam yang kini banyak digemari generasi muda. Dengan udara sejuk dan panorama perbukitan yang asri, Bukit Kebo kini menjadi lokasi favorit untuk foto prewedding, photoshoot, hingga aktivitas glamping keluarga.
Ratih sendiri pernah melakukan sesi pemotretan di lokasi ini, menandakan bahwa pesona Bukit Kebo tak hanya memikat warga sekitar, tetapi juga kalangan pelaku industri kreatif yang mencari nuansa alami. Meski begitu, ia tetap menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kegiatan wisata dan kelestarian ekosistem di sekitarnya.
“Kalau ada kegiatan, sebaiknya yang bersifat alami seperti camping atau sarasehan. Kalau konser besar, khawatir bisa mengganggu habitat hewan liar di sana,” ujarnya mengingatkan.
Selain mengandalkan pesona alam, pengelola Bukit Kebo juga mulai membuka ruang bagi UMKM lokal untuk ikut berpartisipasi. Meskipun masih dalam skala kecil, kehadiran usaha warga menjadi langkah awal menuju penguatan ekonomi masyarakat. Ke depan, konsep sport tourism seperti hiking dan kegiatan outdoor lainnya akan dikembangkan tanpa mengubah karakter alam yang sudah ada.
Ratih menilai pola pengembangan Bukit Kebo mirip dengan konsep Desa Wisata Meranti, di mana wisata, UMKM, dan kelestarian lingkungan berjalan seimbang. “Mereka ingin melihat dulu minat masyarakat. Secara perlahan, konsepnya akan matang,” ujarnya.
Nama Bukit Kebo sendiri berasal dari sejarah unik tempat ini. Dahulu, kawasan tersebut merupakan peternakan kerbau. Dalam bahasa Jawa, “kebo” berarti kerbau. Setelah viral di media sosial karena hamparan rumput hijaunya yang luas, kawasan ini kemudian dikembangkan menjadi destinasi wisata, tanpa meninggalkan identitas aslinya.
Kini, Bukit Kebo bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga simbol baru pariwisata berwawasan lingkungan di Balikpapan dengan perpaduan harmonis antara keindahan alam, kreativitas masyarakat, dan tanggung jawab menjaga bumi.
(ADV/Disporapar Balikpapan)