
SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Penanganan persoalan banjir di kawasan Loa Janan Ulu mulai diarahkan pada skema bertahap dengan melibatkan pemerintah daerah hingga pemerintah provinsi. Pemasangan pintu air disiapkan sebagai langkah awal untuk mengendalikan debit sebelum normalisasi Sungai Loa Janan Ulu dilakukan.
Langkah tersebut menjadi hasil koordinasi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Pemerintah Kota Samarinda, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, dan Balai Wilayah Sungai (BWS). Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke lokasi sodetan di Kilometer 2 Loa Janan, Sabtu (3/10).
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan pembangunan sodetan tetap berjalan, namun pengendalian aliran air perlu dilakukan agar pelaksanaannya tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat. “Jadi kegiatannya jalan, jalan keluarnya yang pertama itu terhadap polemik selama ini, solusinya adalah pintu air,” kata Andi Harun usai rapat.
Menurutnya, pintu air dapat menjadi instrumen pengendalian selama sodetan belum sepenuhnya difungsikan untuk mendukung sistem aliran sungai. Pengoperasiannya akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
“Selama tidak berfungsi dukungannya terhadap jalur sungai, maka pintu airnya kita tutup,” ujarnya.
Untuk penanganan berikutnya, normalisasi Sungai Loa Janan Ulu menjadi bagian penting dalam penyelesaian persoalan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur disepakati menjadi leading sector dalam pembahasan lanjutan bersama BWS, Pemkab Kukar, dan Pemkot Samarinda. Andi Harun menyebut Pemprov Kaltim telah menyatakan kesanggupan mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan fisik penanganan sungai.
Sementara BWS akan dilibatkan dalam pembahasan teknis pada tahap berikutnya. “Insyaallah mereka akan mulai membahas sejak hari Senin. Kita tadi sepakati leading-nya atau pemimpin kegiatan dalam diskusi itu adalah provinsi,” jelasnya.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan pemasangan pintu air diperlukan untuk memastikan debit air tidak meningkat sebelum normalisasi Sungai Loa Janan Ulu terlaksana. “Kita menginginkan bahwa debit air ini tidak menambah, tertambah lagi. Ketika nanti curah hujan, nah tadi disarankan oleh beliau, kita akan pasang pintu air,” ungkap Aulia.
Menurutnya, kawasan sekitar Loa Janan Ulu masih menghadapi potensi genangan ketika curah hujan tinggi maupun saat kondisi pasang. Karena itu, pengendalian debit menjadi langkah penting sembari menunggu penanganan alur sungai secara menyeluruh. “Sehingga debit air selama belum dinormalisasi Sungai Loa Janan Ulu ini, debit airnya tidak menambah sehingga tidak menimbulkan dampak ke masyarakat yang ada di sekitar,” tuturnya.
Aulia juga mengapresiasi keterlibatan Pemkot Samarinda dalam mencari solusi bersama. Koordinasi lintas daerah dinilai penting mengingat persoalan aliran air di kawasan tersebut berkaitan dengan kondisi wilayah Kukar dan Samarinda. Ke depan, penanganan tidak hanya diarahkan pada pembangunan sodetan, tetapi juga pembenahan alur Sungai Loa Janan Ulu.
Tim gabungan yang dikoordinasikan Pemprov Kaltim bersama BWS, Pemkab Kukar, dan Pemkot Samarinda akan melanjutkan pembahasan teknis. Skema bertahap tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan persoalan banjir sekaligus memastikan pembangunan infrastruktur pengendali banjir tidak menimbulkan dampak baru bagi masyarakat. Penanganan alur Sungai Loa Janan ditargetkan dapat direalisasikan secara bertahap hingga 2027.
(ADV/Diskominfo Kukar)