SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN – Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, mengajak masyarakat menyikapi fenomena LGBT dengan mengedepankan pendekatan edukatif, pendampingan keluarga, serta dukungan layanan kesehatan.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak seharusnya direspons dengan stigma maupun pengucilan, melainkan melalui pembinaan yang melibatkan keluarga, lingkungan, dan tenaga kesehatan.
Pernyataan itu disampaikan Bagus usai menghadiri sebuah kegiatan di Balikpapan, saat dimintai tanggapan mengenai pernyataan Presiden yang menyebut LGBT sebagai ancaman bagi bangsa.
Bagus menegaskan bahwa Indonesia berdiri di atas nilai-nilai Pancasila, khususnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga masyarakat diharapkan tetap menjunjung tinggi norma agama dan moral yang berlaku.
“Indonesia adalah negara yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dari sudut pandang agama maupun nilai-nilai Pancasila, perilaku LGBT tidak sejalan dengan nilai yang kita anut,” ujarnya. Senin (6/7/2026)
Meski demikian, ia menilai masyarakat perlu bersikap lebih bijaksana dalam menghadapi persoalan tersebut. Menurutnya, terdapat berbagai faktor yang dapat memengaruhi kondisi seseorang sehingga pendekatan yang humanis dan penuh kepedulian lebih diperlukan dibandingkan memberikan stigma.
“Saya berharap masyarakat semakin dewasa dalam menyikapi persoalan ini. Lingkungan harus mampu memberikan arahan yang positif, bukan justru mengucilkan,” katanya.
Bagus meyakini setiap persoalan memiliki peluang untuk diperbaiki apabila terdapat keinginan dari individu yang bersangkutan serta dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah telah menyediakan layanan kesehatan jiwa yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Di tingkat puskesmas tersedia pelayanan kesehatan jiwa, sementara rumah sakit memiliki dokter spesialis psikiatri yang dapat memberikan penanganan sesuai kebutuhan medis. “Kalau memang membutuhkan pendampingan lebih lanjut, masyarakat dapat berkonsultasi dengan dokter psikiater agar memperoleh penanganan yang tepat,” jelasnya.
Menanggapi fenomena “boti” yang belakangan menjadi perhatian publik, Bagus kembali menekankan pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pertama dalam membentuk karakter seseorang. Ia meminta keluarga memberikan nasihat, perhatian, dan dukungan positif apabila menemukan anggota keluarganya menghadapi persoalan tersebut.
Di akhir pernyataannya, Bagus mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma ataupun mengisolasi individu yang sedang menjalani proses pendampingan. Menurutnya, kolaborasi antara keluarga, lingkungan sosial, dan tenaga kesehatan menjadi langkah yang lebih efektif dalam membantu seseorang, sekaligus tetap menjaga nilai-nilai agama, Pancasila, dan norma yang berlaku di Indonesia.
(ADV/J/Diskominfo Balikpapan)