SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan — Stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) masih menjadi salah satu hambatan terbesar dalam pengendalian kasus HIV. Menurut Mas Ulun, PJ Program TB dan HIV Puskesmas Manggar Baru, tantangan yang dihadapi saat ini bukan hanya terkait penanganan kesehatan, tetapi juga bagaimana mengubah persepsi keliru yang masih melekat di masyarakat maupun di lingkungan pelayanan kesehatan.
Banyak warga masih menganggap bahwa ODHIV adalah individu dengan kondisi yang lemah atau tidak mampu menjalani aktivitas seperti biasanya. Padahal, kenyataannya banyak ODHIV dapat bekerja secara profesional di berbagai sektor tanpa hambatan berarti. “Banyak ODHIV yang sehat, bekerja normal, dan menjalani hidup seperti warga lainnya. Mereka tidak dapat dibedakan dari masyarakat umum,” jelas Mas Ulun.
Ia menyampaikan bahwa perubahan cara pandang masyarakat Manggar Baru sebenarnya mulai terlihat. Kunjungan rutin pasien HIV yang memeriksakan diri ke puskesmas membuat warga sekitar semakin memahami bahwa HIV tidak menular melalui aktivitas sosial sehari-hari. “Dulu ada rasa takut. Sekarang semakin banyak yang peduli dan memahami bahwa HIV bisa dikendalikan dengan terapi,” ujarnya.
Meski demikian, stigma yang muncul di lingkungan keluarga, sosial, hingga tenaga kesehatan masih menjadi tantangan serius. Beberapa pasien bahkan memilih berobat ke fasilitas kesehatan di luar wilayah tempat tinggalnya karena khawatir identitas mereka diketahui atau takut diperlakukan berbeda.
Kondisi ini dapat mengganggu keberlanjutan pengobatan, sementara terapi HIV hanya efektif jika dijalani secara teratur dan berkesinambungan.
Mas Ulun menegaskan bahwa Puskesmas Manggar Baru berkomitmen menciptakan layanan yang aman, ramah, dan bebas diskriminasi. Seluruh petugas diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kerahasiaan data pasien serta memastikan setiap ODHIV mendapatkan pelayanan yang profesional dan manusiawi. “Jika stigma hilang, orang akan berani tes dan berobat. Ini sangat penting dalam menghentikan penularan,” tegasnya.
Ke depan, puskesmas akan memperkuat edukasi publik agar masyarakat semakin memahami bahwa HIV adalah kondisi yang dapat dikendalikan dengan terapi berkelanjutan. Dukungan, penerimaan, dan lingkungan yang inklusif menjadi elemen penting agar ODHIV dapat tetap sehat dan terlibat aktif dalam kehidupan sosial tanpa rasa takut maupun diskriminasi.
(ADV/Puskesmas)