SDIDTK di Puskesmas Manggar Baru Ungkap Kasus Gangguan Tumbuh Kembang, Orang Tua Diminta Lebih Peduli

Penanggung jawab program Anak Puskesmas Manggar baru Siti Rukayah A.md. Keb 

SWARAREPUBlIKA.com, BALIKPAPAN — Puskesmas Manggar Baru kembali melaksanakan kegiatan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) yang menjadi agenda rutin dua kali dalam setahun. Melalui pemeriksaan ini, petugas kesehatan berupaya memastikan bahwa setiap anak memperoleh pemantauan tumbuh kembang secara menyeluruh agar gangguan dapat ditemukan lebih awal.

Penanggung jawab Program Anak Puskesmas Manggar Baru, Siti Rukayah, A.Md.Keb, menjelaskan bahwa SDIDTK bukan hanya evaluasi fisik, tetapi serangkaian pemeriksaan yang memotret perkembangan motorik, kognitif, bicara, serta perilaku sosial anak. Siti menegaskan bahwa tujuan utama pemeriksaan adalah mendeteksi potensi gangguan sebelum berkembang menjadi masalah serius.

Ia mencontohkan keterlambatan bicara, gangguan interaksi sosial, hingga kemampuan motorik yang tidak sesuai usia. Dalam kegiatan terakhir, sejumlah anak ditemukan memerlukan terapi lanjutan. Sebagian dari mereka sudah berada dalam program terapi, sementara sebagian lainnya baru disarankan untuk mendapatkan intervensi.

“Masalah terbesar yang sering muncul justru berasal dari kurangnya kesadaran orang tua. Banyak yang merasa anaknya baik-baik saja padahal hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tanda keterlambatan,” ujarnya.

Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dari prosedur SDIDTK. Orang tua diarahkan untuk memberikan stimulasi rutin di rumah, disertai rekomendasi terapi jika dibutuhkan. Bila diperlukan penanganan lanjutan, anak dirujuk ke psikolog atau layanan Puspaga. Dalam pelaksanaan pemeriksaan, petugas memanfaatkan SDIDTK kit yang berisi balok edukatif, bola, hingga permainan sensorik lainnya yang disesuaikan dengan usia.

Setiap anak diuji berdasarkan tahapan perkembangan, mulai usia tiga hingga enam tahun. Penilaian dilakukan bertahap mengikuti komponen kemampuan yang harus dicapai di setiap kelompok usia. Menurut Siti, SDIDTK memiliki dampak strategis karena mampu menjadi dasar intervensi dini dan mencegah gangguan tumbuh kembang berkembang lebih berat.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan anak. Ia berharap kegiatan ini mendapat dukungan kuat dari masyarakat. “Semakin cepat gangguan ditemukan, semakin besar peluang anak mencapai potensi terbaiknya,” tegas Siti.

(ADV/Puskesmas)