SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN — Puskesmas Manggar Baru terus menggencarkan penyuluhan mengenai bahaya paparan asap rokok terhadap balita di sejumlah posyandu wilayah kerjanya. Kegiatan ini menyasar tiga RT, yakni RT 12, RT 48, dan RT 28, yang sebelumnya tercatat memiliki kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) cukup tinggi.
Hal ini disampaikan dokter internship, dr. Karim Samman, saat ditemui di Jl. Mulawarman RT 07 No. 28, Senin (17/11/2025). Dalam kegiatan tersebut, para ibu yang memiliki balita dikumpulkan untuk diberikan pemahaman mengenai gejala ISPA, tanda bahaya yang harus diwaspadai, serta waktu yang tepat untuk membawa anak ke fasilitas kesehatan.
Dr. Karim menyebut rendahnya kewaspadaan orang tua sering menjadi penyebab keterlambatan penanganan. “Banyak yang menganggap batuk pilek itu biasa. Padahal, jika anak sudah menunjukkan napas cepat atau tarikan dinding dada, itu merupakan tanda bahaya,” jelasnya.
Materi penyuluhan juga menyoroti risiko paparan asap rokok di dalam rumah, baik asap utama, asap sampingan, maupun residu asap rokok yang menempel pada pakaian, sofa, tirai, hingga perabot rumah tangga. Tim kesehatan menegaskan balita tetap bisa terpapar meski tidak berada di ruangan yang sama dengan perokok.
Beberapa peserta posyandu bahkan mengaku baru mengetahui bahwa bau rokok pada rambut atau kain juga dapat membahayakan anak. Selain menjelaskan risiko, tim memberikan contoh langkah pencegahan yang dapat dilakukan keluarga. Di antaranya memindahkan area merokok ke luar rumah, membersihkan diri dan mengganti pakaian setelah merokok, serta menjaga ventilasi agar udara dalam rumah tetap bersih.
Penyuluhan dilakukan melalui metode ceramah, diskusi, dan sesi tanya jawab untuk memastikan peserta memahami materi secara menyeluruh. Meski demikian, dr. Karim menekankan bahwa penelitian dan edukasi tersebut memiliki keterbatasan. Puskesmas belum dapat memastikan apakah penyuluhan langsung berdampak pada perubahan perilaku masyarakat.
“Kami tidak bisa menilai apakah mereka berhenti merokok atau mulai merokok di luar rumah. Perubahan perilaku itu butuh waktu dan tidak bisa diukur hanya dengan satu kali penyuluhan,” ujarnya.
Walaupun begitu, ia menilai penyuluhan rutin sangat penting untuk membangun kesadaran jangka panjang. Pemahaman yang terus diperkuat diharapkan dapat mendorong perubahan bertahap di lingkungan keluarga, terutama dalam melindungi balita yang lebih rentan terhadap paparan asap rokok.
“Kalau pengetahuan meningkat, minimal mereka mulai mempertimbangkan untuk melindungi anak dari asap rokok. Itu sudah langkah yang baik,” tutupnya.
(ADV/Puskesmas)