Pelayanan Poli Gigi di Puskesmas Balikpapan Timur Stabil, Kesadaran Kontrol Rutin Masih Rendah

Poli gigi Puskesmas Balikpapan timur Drg Nimas

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN — Poli Gigi Puskesmas Balikpapan Timur terus mencatat kunjungan pasien yang cukup konsisten dalam beberapa bulan terakhir. Keluhan yang datang pun masih didominasi oleh kasus-kasus umum seperti gigi berlubang, gigi impaksi, pembengkakan gusi, serta penumpukan karang gigi.

Hal ini disampaikan dokter gigi Puskesmas Balikpapan Timur, drg. Nimas, dalam wawancara pada Kamis (20/11/2025). Menurut drg. Nimas, pola keluhan pasien tidak banyak berubah dari waktu ke waktu. “Kasus yang sering datang tetap sama seperti sebelumnya, mulai dari gigi berlubang, gigi bungsu impaksi, hingga pembengkakan gusi dan plak gigi,” jelasnya.

Kesadaran Masyarakat Masih Menjadi Tantangan Meski pelayanan berjalan dengan baik, drg. Nimas menyoroti tantangan yang masih terus dihadapi, yaitu rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan rutin. Kebanyakan pasien datang hanya ketika keluhan sudah terasa parah. “Jika tidak sakit, mereka biasanya tidak datang. Masih banyak yang belum menyadari pentingnya kontrol enam bulan sekali,” ujarnya.

Namun demikian, ia mengakui bahwa sebagian masyarakat sudah mulai memiliki kesadaran dan rutin melakukan pemeriksaan. Penanganan Kasus Anak dan Mekanisme Rujukan Pada penanganan pasien anak, Poli Gigi melakukan pemeriksaan awal untuk melihat tingkat keparahan kerusakan gigi. Jika masih tergolong ringan, tindakan seperti penambalan akan dilakukan langsung di puskesmas.

Namun untuk kasus lubang gigi yang sudah berat, pasien akan dirujuk ke rumah sakit agar mendapat perawatan lebih lengkap. “Untuk gigi goyang pada anak, pasti kami tangani di sini dan tidak perlu dirujuk. Tapi kalau lubang sudah dalam dan alat kami tidak mampu menangani, barulah kami rujuk,” ujar drg. Nimas.

Program Penyuluhan dan Pemeriksaan Sekolah Selain pelayanan di poli, Puskesmas Balikpapan Timur juga rutin menjalankan program penyuluhan di sekolah sebagai bentuk upaya pencegahan. Kegiatan edukasi dilakukan satu kali setahun di PAUD dan TK, termasuk sikat gigi massal. Di tingkat SD, edukasi melalui pembinaan dokter kecil juga digelar bersamaan dengan pemeriksaan rutin.

Saat ini juga berjalan program pemerintah CKG (Cek Kesehatan Gigi) yang mencakup pemeriksaan gigi anak sekolah. “Kalau ditemukan gigi yang bermasalah dan harus segera ditangani, kami sarankan untuk datang ke puskesmas untuk dilakukan tindakan pada gigi tersebut . Kami juga melakukan pengolesan varnish fluoride untuk mencegah gigi berlubang,” terangnya.

Kebutuhan Fasilitas dan Harapan Terkait fasilitas, drg. Nimas menyampaikan bahwa SDM di poli sudah mencukupi. Namun ia menilai beberapa peralatan pendukung masih perlu ditambahkan agar pelayanan semakin optimal. “Tenaganya sudah cukup, hanya fasilitas tertentu memang akan lebih baik jika bisa ditambah,” katanya.

Sebagai penutup, drg. Nimas berharap masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan gigi dan mulut. Ia menekankan pentingnya menjaga pola kontrol rutin agar kerusakan gigi dapat dicegah sejak dini. “Harapan kami, masyarakat bisa melakukan kontrol setiap enam bulan, bukan hanya datang ketika sakit.

Pembersihan karang gigi juga sebaiknya dilakukan dua kali setahun untuk mengontrol kebersihan gigi dan mencegah kerusakan gigi berlanjut,” tutupnya.

(ADV/Puskesmas)