Puskesmas Manggar Baru Soroti Kebiasaan Masyarakat Yang Memicu Hipertensi

Pelayanan terhadap pasien oleh Dr Joko Santoso Puskesmas Manggar Baru kecamatan Balikpapan Timur 

SWARAREPUBLIKA.com. BALIKPAPAN — Pelayanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar di Puskesmas Manggar Baru kembali menyoroti tingginya temuan kasus hipertensi di wilayah tersebut. Dalam kegiatan yang berlangsung pada Selasa (18/11/2025) itu, sejumlah warga diketahui mengalami tekanan darah tinggi, sehingga mendorong tenaga medis untuk memperkuat edukasi mengenai pentingnya pencegahan melalui pola hidup sehat.

Dokter umum Puskesmas Manggar Baru, dr. Joko Santoso, menjelaskan bahwa hipertensi hingga kini masih termasuk penyakit multifaktorial yang dipengaruhi berbagai faktor. Namun, ia menegaskan bahwa gaya hidup tetap menjadi penyebab terbesar. “Sampai sekarang hipertensi itu masih multifaktorial, tapi faktor terbesar biasanya dari gaya hidup,” ujarnya.

Salah satu pemicu utama, lanjutnya, adalah pola makan tinggi natrium. Ia mengingatkan bahwa natrium tak hanya berasal dari garam, tetapi juga bumbu dan makanan olahan yang sering dikonsumsi masyarakat. “Kecap itu natriumnya tinggi, micin juga. Makanan berminyak, makanan cepat saji, makanan berpengawet, semua itu meningkatkan risiko tekanan darah tinggi,” jelasnya.

dr. Joko juga menyoroti kurangnya aktivitas fisik sebagai faktor lain yang memperburuk risiko hipertensi. Ia menyarankan masyarakat berolahraga minimal 30 menit per hari atau total 150 menit per minggu untuk menjaga kesehatan jantung dan menurunkan tekanan darah. “Kalau bisa sehari 30 menit, berarti seminggu lima kali,” tambahnya.

Dalam pelayanan kesehatan di puskesmas, penanganan hipertensi tidak langsung dengan obat, terutama bila tekanan darah pasien belum berada pada kategori tinggi. Upaya pertama adalah memberikan edukasi perubahan gaya hidup, seperti mengatur pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, mengelola stres, dan mencukupi waktu istirahat. “Bila tidak ada kondisi pemberat dan tekanannya tidak terlalu tinggi, biasanya kita edukasi dulu,” jelasnya.

Evaluasi penerapan gaya hidup sehat dilakukan selama tiga bulan. Bila tekanan darah pasien tetap tinggi setelah periode tersebut, barulah diberikan terapi obat. “Kalau sudah dimodifikasi tapi tekanan darah tetap tinggi, berarti memang butuh obat. Dan di puskesmas ada obat-obatan yang bisa kami berikan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat sangat penting untuk menekan jumlah penderita hipertensi, terlebih karena tren kasus kini mulai banyak ditemukan pada usia muda.

Melalui program seperti CKG, puskesmas berharap masyarakat dapat lebih peka terhadap faktor risiko dan terdorong menerapkan pola hidup yang lebih sehat.

(ADV/Puskesmas)