SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan - Kota Balikpapan terus menghadapi tantangan besar dalam penyediaan air bersih, terutama saat musim kemarau berkepanjangan. Keterbatasan sumber daya air yang ada membuat pasokan air tidak mencukupi kebutuhan masyarakat, mengingat kota ini hanya mengandalkan embung Aji Raden di Balikpapan Timur dan waduk Manggar di Karang Joang.
Kedua sumber tersebut sangat bergantung pada curah hujan, sehingga ketika musim kemarau tiba, cadangan air menjadi sangat terbatas. Ketua Komisi II DPRD Kota Balikpapan, Fauzi Adi Firmansyah, menegaskan bahwa solusi jangka panjang yang paling realistis untuk mengatasi permasalahan ini adalah memanfaatkan air dari Sungai Mahakam.
Alternatif lain seperti desalinasi air laut dan penggunaan air dari Kariangau Terminal (KKT) dinilai kurang efektif karena biaya yang terlalu tinggi dan kapasitas yang terbatas. “Kami sudah mengkaji berbagai opsi, termasuk penggunaan air dari Kariangau Terminal. Namun, kapasitasnya terbatas dan biayanya tidak sebanding.
Sungai Mahakam memiliki potensi besar dan bisa menjadi solusi yang lebih realistis untuk memenuhi kebutuhan air di Balikpapan, dengan estimasi investasi sekitar Rp800 miliar,” ujar Fauzi.
Menurutnya, pemanfaatan Sungai Mahakam harus disertai dengan kajian mendalam, terutama terkait dampak lingkungan, aspek teknis, serta kebutuhan pendanaan yang cukup besar. Untuk itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan investor guna merealisasikan proyek ini.
Sebagai langkah konkret, DPRD Kota Balikpapan tengah berkoordinasi dengan DPRD Provinsi Kalimantan Timur serta gubernur terpilih guna menyusun strategi pelaksanaan proyek ini. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pembangunan jaringan pipanisasi yang menghubungkan Sungai Mahakam ke Balikpapan melalui jalur tol, sehingga distribusi air dapat lebih efisien.
Selain infrastruktur, Fauzi menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan air yang bijak. Dengan kombinasi antara pembangunan infrastruktur yang memadai dan peningkatan kesadaran masyarakat, diharapkan krisis air bersih di Balikpapan dapat teratasi secara berkelanjutan, memberikan manfaat jangka panjang bagi kota ini.
(ADV/J)