SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan – Komisi I DPRD Kota Balikpapan, melalui Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda), menggelar Focus Group Discussion (FGD) guna merumuskan strategi untuk memperkuat kemandirian pangan di tingkat lokal.
Acara ini dihadiri oleh Iwan Wahyudi dari Bapemperda, tim kajian dari Universitas Negeri Malang, serta berbagai pemangku kepentingan, termasuk Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DP3), Dinas Perdagangan, Bulog, Bappeda Litbang, hingga perwakilan kelompok tani dan wanita tani.
Iwan Wahyudi menjelaskan bahwa kajian oleh Universitas Negeri Malang bertujuan memetakan potensi pangan lokal agar Balikpapan tidak terus bergantung pada pasokan luar daerah, seperti dari Jawa dan Sulawesi. “Selama ini, kebutuhan pangan kita masih bergantung dari luar. Kami ingin mencari potensi lokal yang dapat dikembangkan, misalnya ubi dan komoditas hortikultura lainnya, serta penerapan inovasi seperti smart farming dan budidaya ikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, ketahanan pangan harus didukung dari hulu hingga hilir. DP3 bertanggung jawab atas produksi, Dinas UMKM mendukung inovasi pengolahan, dan Dinas Perdagangan mengurus pemasaran.
Iwan menekankan pentingnya nilai tambah pada produk lokal agar mampu bersaing di pasar. “Jika hanya memproduksi tanpa diolah, harga bisa jatuh ketika ada banjir pasokan dari luar, seperti yang dialami petani semangka. Harga semangka lokal bisa jatuh hingga Rp1.300 per kilogram karena stok dari Jawa berlimpah,” jelasnya.
Dalam konteks ketahanan pangan, Balikpapan diklaim memiliki stok yang aman hingga tahun depan. Bahkan, kota ini masuk delapan besar ketahanan pangan terbaik di Indonesia dan salah satu yang terkuat di Kalimantan Timur. Meski demikian, potensi inflasi menjadi tantangan besar yang dapat memengaruhi stabilitas harga pangan.
Selain itu, diskusi dalam FGD ini juga menggarisbawahi pentingnya peningkatan produktivitas dengan penyediaan alat pertanian, dukungan penelitian, dan pemberdayaan petani. Iwan menyoroti bahwa dukungan dari pemerintah dan swasta diperlukan untuk memanfaatkan lahan lokal guna menumbuhkan produk-produk seperti ubi, pisang, dan pepaya. “Jika ada masyarakat yang ingin mengembangkan produk lokal, kita perlu mendorong mereka demi kemandirian pangan di Balikpapan,” tambahnya.
Kajian ini diharapkan mampu memberikan rekomendasi yang kuat dalam menentukan komoditas unggulan yang sesuai dengan kondisi geografis dan sosial Balikpapan, sehingga bisa meningkatkan produktivitas serta nilai ekonomi sektor pangan lokal.
(ADV/J)