
SWARAREPUBLIKA.com, TENGGARONG — Keterbatasan akses jalan dan sumber air di permukiman padat menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) setelah kebakaran melanda RT 33, Kelurahan Melayu, Tenggarong. Pemerintah daerah akan memetakan kebutuhan infrastruktur di setiap wilayah untuk mendukung penanganan kebakaran dan mengevaluasi kesiapan kawasan menghadapi keadaan darurat.
Pemetaan tersebut meliputi kondisi jalan, ketersediaan sumber air, serta kebutuhan hidran. Hasil evaluasi akan menjadi pertimbangan dalam menentukan penanganan sesuai persoalan dan karakteristik masing-masing wilayah. Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, mengatakan kebutuhan infrastruktur setiap rukun tetangga (RT) berbeda sehingga tidak dapat ditangani dengan pendekatan yang sama.
“Kita akan lihat kebutuhan masing-masing RT karena tidak semuanya sama,” kata Aulia saat meninjau lokasi kebakaran, Kamis (8/10).
Ia menjelaskan, jalan yang sempit di kawasan permukiman padat dapat menyulitkan kendaraan pemadam kebakaran mencapai titik api. Kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi, termasuk memastikan ketersediaan sumber air bagi petugas ketika menangani kebakaran di lokasi yang sulit dijangkau armada. Pemkab Kukar juga akan mengkaji kemungkinan pemanfaatan dana RT untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur tertentu.
Skema tersebut dipertimbangkan apabila penanganan persoalan memungkinkan dilakukan melalui pembiayaan di tingkat RT. “Kalau bisa ditangani dengan dana RT, kita akan coba optimalkan pembiayaan melalui dana RT untuk mengatasi permasalahan tersebut,” ujarnya.
Di tengah evaluasi jangka panjang, pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak tetap menjadi perhatian pemerintah. Aulia meminta pemerintah kecamatan dan Kelurahan Melayu mendata kebutuhan masyarakat, khususnya perlengkapan sekolah bagi anak-anak serta barang yang menunjang aktivitas warga yang bekerja.
“Jangka pendek itu, kita memastikan aktivitas sehari-hari masyarakat tidak terganggu. Bagi yang bersekolah, perlengkapan sekolahnya harus terpenuhi. Bagi yang bekerja, kebutuhan pekerjaannya juga harus terpenuhi,” jelasnya.
Bantuan bagi warga terdampak turut disalurkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dalam bentuk peralatan memasak. Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan warga dan relawan di lokasi pengungsian.
Aulia juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Pemadam Kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), para relawan, serta jajaran pemerintah kecamatan dan kelurahan yang terlibat dalam penanganan pascakebakaran, termasuk penyelenggaraan dapur umum.
Selain kebutuhan fisik, Pemkab Kukar turut memperhatikan kondisi psikologis warga setelah mengalami musibah. Pemantauan akan dilakukan bersama unsur pemerintah dan komunitas agar warga yang mengalami tekanan pascakebakaran dapat memperoleh pendampingan.
Melalui evaluasi infrastruktur dan pemenuhan kebutuhan warga, Pemkab Kukar berupaya memastikan proses pemulihan berjalan seiring dengan upaya memperbaiki kesiapan permukiman dalam menghadapi risiko kebakaran di kemudian hari.
(ADV/Diskominfo Kukar)