
SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN – Pemerintah Kota Balikpapan mengajak masyarakat memanfaatkan lahan kosong di sekitar tempat tinggal untuk mengembangkan peternakan ayam petelur skala rumahan. Upaya ini menjadi bagian dari penguatan ketahanan pangan sekaligus mendukung program urban farming yang terus didorong pemerintah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan, Sri Wahjuningsih, mengatakan konsep urban farming tidak hanya berfokus pada budidaya sayuran, tetapi juga mencakup peternakan dan perikanan yang dapat diterapkan di kawasan perkotaan.
Menurutnya, tren masyarakat yang mulai tertarik memelihara ayam petelur menjadi peluang positif untuk memperkuat kemandirian pangan keluarga. Program tersebut juga telah menjadi bagian dari RPJMD Wali Kota Balikpapan periode 2026–2029.
Sri menilai masih banyak lahan di lingkungan perumahan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, ruang kosong tersebut dapat diubah menjadi lahan produktif yang mampu menyediakan kebutuhan pangan keluarga sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan.
“Urban farming itu tidak hanya bicara soal sayur-mayur, tetapi juga ikan dan ayam petelur. Jadi sangat dimungkinkan dilakukan dalam skala kecil oleh masyarakat,” ujarnya, Senin (15/6/2026).
Selain membantu memenuhi kebutuhan protein hewani melalui produksi telur, budidaya ayam petelur juga dinilai dapat menekan pengeluaran rumah tangga. Jika hasil produksi melimpah, masyarakat bahkan berpeluang memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan telur.
Meski demikian, Sri mengingatkan agar aktivitas peternakan di kawasan permukiman tetap memperhatikan kebersihan lingkungan. Pengelolaan kandang serta limbah harus dilakukan secara baik agar tidak mengganggu kenyamanan warga sekitar. Ia juga mendorong penerapan sistem urban farming terpadu yang ramah lingkungan.
Dalam konsep tersebut, kotoran ayam dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sedangkan limbah makanan rumah tangga diolah menjadi maggot sebagai pakan alternatif bagi ayam maupun ikan.
“Kalau dikelola dengan baik, semuanya bisa saling mendukung. Kotoran ayam menjadi pupuk, limbah makanan diolah menjadi maggot, lalu maggot bisa menjadi pakan ikan atau ayam,” pungkasnya.
(ADV/J/Diskominfo Balikpapan)