Debu Selimuti Balikpapan, Dinkes Belum Temukan Lonjakan ISPA dan Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan

Kepala Dinas kesehatan Kota Balikpapan Alwiati

SWARAREPUBLIKA.com, BALIKPAPAN – Fenomena hujan debu yang belakangan menjadi perhatian masyarakat di sejumlah kawasan Kota Balikpapan mulai mendapat respons dari Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Meski kondisi udara yang dipenuhi partikel debu memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap kesehatan, hingga kini pemerintah daerah belum menemukan bukti adanya peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang berkaitan langsung dengan fenomena tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, mengatakan pihaknya masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lapangan. Menurutnya, setiap informasi yang mengaitkan hujan debu dengan meningkatnya kasus gangguan pernapasan harus didasarkan pada data yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Kalau ada klaim seperti itu, tentu kami akan uji terlebih dahulu. Sejauh ini belum ada laporan yang masuk mengenai peningkatan angka kesakitan ISPA yang dikaitkan dengan debu," ujarnya saat ditemui, Selasa (23/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa penyakit ISPA memang menjadi salah satu keluhan kesehatan yang kerap muncul di Balikpapan, terutama ketika terjadi perubahan cuaca. Namun demikian, tingginya angka kasus secara umum tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai dampak dari hujan debu yang sedang terjadi.

Untuk memperoleh gambaran yang akurat, Dinkes akan menghimpun laporan dari seluruh puskesmas di Kota Balikpapan. Data tersebut nantinya menjadi dasar dalam melakukan analisis apakah terdapat kecenderungan peningkatan kasus yang berkaitan dengan kualitas udara.

"Kami akan kumpulkan data dari puskesmas-puskesmas. Tapi yang jelas, saya harus tahu dulu debunya itu apa, partikelnya seperti apa. Saya pun belum menerima laporan dari rekan-rekan di bidang kesehatan lingkungan," jelas Alwiati.

Selain mengumpulkan data pelayanan kesehatan, Dinkes juga akan mengidentifikasi karakteristik debu yang beredar di udara, termasuk asal-usul, jenis, serta kandungan partikelnya. Kajian tersebut dinilai penting untuk memastikan apakah material yang beterbangan memiliki potensi menimbulkan gangguan kesehatan atau hanya merupakan dampak dari kondisi cuaca yang sedang panas dan kering.

Meski belum ditemukan kondisi yang mengarah pada situasi darurat kesehatan, Alwiati tetap mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan upaya pencegahan.

Menurutnya, cuaca ekstrem yang disertai udara berdebu tetap berpotensi menimbulkan iritasi saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

"Kondisi sekarang kan memang lagi panas. Kita harus waspada. Saya imbau masyarakat agar selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama di area yang banyak debu. Perbanyak minum air putih juga sangat penting untuk menjaga kelembapan saluran pernapasan," pesannya.

Dinkes Kota Balikpapan menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi secara berkala dan siap berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup, apabila hasil kajian menunjukkan adanya potensi risiko kesehatan akibat kualitas udara.

Masyarakat juga diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan atau puskesmas terdekat apabila mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, atau gejala gangguan pernapasan lainnya agar dapat memperoleh penanganan sedini mungkin.

(ADV/J/Diskominfo Balikpapan)