Kader Jumantik Hadapi Penolakan Warga, Puskesmas Dorong Pendekatan Komunikatif

Petugas sanitasi puskesmas Manggar Baru Yuliani

SWARAREPUBLIKA.com, Balikpapan - Pelaksanaan pemeriksaan jentik di tingkat rumah tangga bukanlah hal yang selalu berjalan mulus. Di Manggar Baru, kader Jumantik masih menghadapi berbagai dinamika sosial ketika berupaya memasuki rumah warga.

Meski mereka telah dibekali pemahaman teknis terkait pemberantasan sarang nyamuk, pendekatan interpersonal menjadi tantangan utama di lapangan. Petugas sanitasi Puskesmas Manggar Baru, Yuliani, mengungkapkan bahwa beberapa warga masih keberatan ketika kader meminta izin melakukan pemeriksaan.

Penolakan tidak selalu muncul karena ketidakpedulian, tetapi sering kali disebabkan alasan privasi atau kekhawatiran kondisi rumah mereka dianggap kurang layak dilihat orang lain. Situasi seperti ini membutuhkan strategi komunikasi yang sensitif agar tidak menimbulkan kesalahpahaman antara warga dan kader. Untuk menghadapi permasalahan tersebut, puskesmas secara rutin mengadakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) bersama seluruh kader Jumantik.

Dalam forum ini, para kader berbagi pengalaman menghadapi penolakan serta bertukar cara pendekatan yang dianggap berhasil. Sebagian kader menerapkan pendekatan persuasif yang lebih personal, misalnya membuka percakapan ringan terlebih dahulu sebelum menjelaskan tujuan kunjungan.

Yuliani menyebutkan bahwa kebiasaan berbagi pengalaman semacam ini sangat membantu meningkatkan kepercayaan diri para kader. Selain melakukan pemeriksaan, kader juga membawa abate sebagai bentuk dukungan langsung terhadap pencegahan jentik. Ketika memasuki rumah, mereka biasanya menyampaikan kembali pentingnya melakukan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, mendaur ulang barang bekas, serta menambahkan langkah tambahan seperti penggunaan abate pada tempat air. Pendekatan ini sekaligus menjadi sarana edukasi agar warga lebih memahami manfaat kegiatan tersebut.

Kader Jumantik merupakan ujung tombak keberhasilan program pemberantasan sarang nyamuk, sehingga penolakan warga menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Puskesmas menyadari bahwa mengubah persepsi masyarakat memerlukan proses, terutama untuk meyakinkan bahwa kunjungan kader tidak bersifat mengganggu, melainkan untuk melindungi kesehatan lingkungan.

Ke depan, Puskesmas Manggar Baru berencana memperkuat pembinaan kader dengan menekankan pelatihan soft skill, khususnya terkait teknik komunikasi efektif. Yuliani berharap peningkatan kapasitas kader dapat mengurangi jumlah penolakan dan meningkatkan tingkat penerimaan di masyarakat. Upaya ini diharapkan mampu memperkuat fondasi program jentik agar lebih adaptif terhadap dinamika sosial di lapangan.

(ADV/Puskesmas)